Sejak meninggal Minggu 27 Januari kemarin, ratusan karangan bunga terus berdatangan. Jumlahnya mencapai ratusan. Bahkan ketika dijejerkan panjangnya mencapai 1 km hingga ke jalan Teuku Umar.
Senin (28/1/2008) siang, usai jenazah Soeharto dibawa ke Halim Perdanakusuma, karangan bunga masih terus berdatangan termasuk dari Presiden SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bunga segar berjenis aster dan mawar menjadi sasaran para ibu-ibu. Mereka mencabuti flora berwarna-warni. "Untuk kenang-kenangan," kata seorang ibu yang berasal dari Jakarta Timur.
Tak hanya bunga yang mereka cabuti, huruf dari busa bertuliskan turut berduka cita pun ikut mereka ambil termasuk yang bertuliskan HM Soeharto.
Di ujung jalan masuk Cendana, tampak sejumlah pria sedang asyik mempreteli bunga kertas. Tidak seperti ibu-ibu yang mengambil bunga sebagai kenang-kenangan, mereka sengaja mengambil bunga dari kertas itu untuk dijual lagi.
Mereka membawa plastik besar dan mengelompokkan bunga kertas berdasarkan warna. Ada kuning, merah, dan hijau.
"Ini masih bagus bisa dipakai untuk karangan bunga lagi," tutur seorang pria yang enggan menyebut identitasnya.
Menurut dia, harga karangan bunga yang paling murah sekitar Rp 250 ribu untuk bunga kertas. Sedangkan untuk bunga segar berharga minimal Rp 500 ribu.
Tak hanya pedagang bunga yang panen. Pemulung juga ikut ketiban rezeki. Gelas dan botol plastik bekas air mineral menjadi sampah favorit mereka. Begitu juga kardus-kardus bekas yang bernilai jual tinggi.
"Banyak mas. Lumayan gak usah keliling jauh-jauh lagi," kata seorang pemulung sambil menunjuk gerobaknya yang sudah penuh kardus. (bal/ken)











































