Bicara 'Seksi' di Zamzam Cafe

Catatan Dari Makkah (3)

Bicara 'Seksi' di Zamzam Cafe

- detikNews
Kamis, 24 Jan 2008 08:46 WIB
Bicara Seksi di Zamzam Cafe
Makkah - Suasananya santai saja. Di sebuah Zamzam Cafe di Hotel Dar Al Tawhid, Makkah, kami berkumpul pada Rabu (23/1/2008) pukul 12.00 siang waktu Saudi(16.00 WIB). Pak Wapres Jusuf Kalla (JK) berbusana muslim lengan panjang. Kami bicara demokrasi.

Isu demokrasi saat ini tengah seksi-seksinya sedang dibahas di Indonesia. Ada Pilkada damai, ada pula Pilkada yang rusuh. Tahun 2009, Indonesia juga akan menggelar Pemilu. Nah, diskusi yang dipimpin JK di kafe di dekat Masjidil Haram ini berjalan cukup gayeng.

Wajah JK sumringah. Sejumlah pemimpin redaksi yang terlibat dalam diskusi dengan Pak JK itu, antara lain Karni Ilyas (Lativi dan Anteve), Suryopratomo (Kompas), Rohman Budijanto (Jawa Pos), Gatot Trianto (TransTV) dan juga saya sendiri. Diskusi sangat gayeng. Pembicaraan dengan JK seperti dengan teman sendiri saja. Tanpa sekat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tidak bisa menerapkan demokrasi ala Amerika," tukas JK. Tentu JK tidak asal nyeplos. Amerika, kata JK, hanya memiliki dua partai. Sementara Indonesia multipartai. Peserta pemilu di Indonesia bisa sampai puluhan partai. Dari sisi ini saja sudah sangat berbeda. Belum lagi soal kultur dan lain lain.

Jadi jangan bilang gaya Amerika paling pas buat kita. Kita memang sedang belajar demokrasi. Mencari format yang paling pas. Tapi kata JK, jangan tergiring menuju ultra demokrasi. Mengutip pendapat Hatta, ultra demokrasi bisa membawa ke arah yang mundur. Chaos jadinya.

Pramusaji Zamzam Cafe menyuguhkan pesanan kopi, teh dan air putih. Sambil diskusi, menyeruput teh maupun kopi. Sesekali JK meminum air putih. Bicaranya antusias membuat JK terbatuk batuk.

Demokrasi yang kami wacanakan sampai ke pilkada-pilkada yang sedang dan akan berlangsung disejumlah daerah. Ada yang ricuh, ada yang mulus. Dan ada tren baru, munculnya sejumlah jenderal tentara maupun polisi berlaga menjadi pemimpin daerah.

Bagi JK, tren itu terjadi karena ada persepsi bahwa tentara atau polisilah yang bisa mewujudkan impian akan kebutuhan bentuk disiplin baru. Rakyat lelah dengan huru-hara. Rusuh. Rakyat memimpikan keseimbangan baru. Kedisiplinan yang baru dalam tata kehidupan. Lalu rakyat punya persepsi, tentara atau polisilah yang bisa mewujudkan itu.

"Itu persepsi rakyat, bukan persepsi saya. Itulah fakta tren yang sedang terjadi," tutur JK. Tapi jangan lupa, di Sumatera ada 7 pengusaha jadi gubernur.

Bicara demokrasi pasti tak akan ada putusnya. Sampai kemudian ajudan Wapres mengingatkan, sebentar lagi waktu salat Dhuhur. Diskusi pun bubar. JK menuju Masjidil Haram. Akankah JK akan menemukan format pas bagi demokrasi di Indonesia? (bdi/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads