Mappaisse adalah jamaah asal Luwu, Sulsel, yang melakukan penusukan terhadap tiga jamaah lain di Masjidil Haram pada 22 Desember 2007. Dia lalu dirawat di RS Jiwa Thaif, Makkah.
Namun proses hukumnya dihentikan setelah ketiga korbannya memberikan maaf kepadanya. Hukum di Arab Saudi memungkinkan pembebasan seperti itu jika pihak korban memaafkan pelaku.
Setelah dibebaskan, pada hari Minggu 13 Januari 2008, Mappaisse dibawa ke Jeddah untuk proses pemulangan sembari terus mendapat perawatan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) PPIH Daker Jeddah. Karena kondisi kejiwaannya masih labil, dia selalu dalam pengawasan ketat para petugas PPIH.
Namun Senin sore kemarin, Mappaisse kembali berulah. Di saat para petugas yang menjaganya sedang menjalankan salat Maghrib, dia berusaha melarikan diri dari ruang perawatan. Beruntunglah seorang petugas PPIH mengetahuinya dan terus membuntutinya.
"Sambil terus membuntuti, saya menghubungi para petugas lainnya. Tapi saya kemudian kehilangan jejaknya ketika dia menyeberang jalan. Akhirnya kami, termasuk Pak Kepala Daker, berpencar mencari Mappaisse ke berbagai lokasi," ujar Afrizal Zein, petugas yang membuntuti Mappaisse tersebut, Selasa (15/1/2008).
Setelah cukup lama mencari, Mappaisse berhasil diketemukan sedang bersembunyi di sebuah lorong sebuah taman. Mappaisse lalu kembali dibawa ke kantor Daker PPIH Jeddah setelah berhasil dibujuk oleh petugas. Dan dia diberi obat penenang.
Tenang sebentar, Mappaisse kembali berulah. Ketika duduk santai ditemani sejumlah petugas di ruang tamu kantor Daker, Mappaisse spontan berdiri dan mengambil sebilah pecahan kaca yang tergeletak di ruangan tersebut. Pecahan kaca itu lalu diayun-ayunkan sambil mengancam para petugas.
"Dia menantang-nantang dengan menyebut petugas itu sebagai polisi dan terus berusaha menyerang. Para petugas menjauhinya untuk menjaga kemungkinan serangannya semakin tak terkontrol. Ada juga petugas yang terus berusaha membujuk agar Mappaisse meletakkan kaca itu sambil terus waspada," papar Afrizal.
Tak lama setelah itu, Mappaisse kembali meletakkan pecahan kaca yang dibawanya. Selanjutnya Mappaisse kembali dirawat di BPHI Daker Jeddah, tentunya dengan pengawasan yang lebih ketat lagi.
Sejumlah kesaksian menyebutkan, Mappaisse mulai menunjukkan kelainan ketika berada di Mina. Saat itu dia sering terlihat ketakutan dan mengaku diancam orang. Puncaknya dia menyerang tiga jamaah dengan pisau lipat saat thawaf di Masjidil Haram dengan dalih lebih baik menyerang dulu sebelum diserang.
(mbr/mly)











































