Bukan hanya menyuplai BBM kapal laut, melalui anak usahanya, IPC Inc, Chemoil kemudian memasok avtur untuk AS dan pesawat komersial internasional di AS. Termasuk di dalamnya adalah bisnis BBM. Sukses di bidang bisnis minyak membuatnya kaya raya. Versi majalah Forbes ia berada di peringkat 14 orang terkaya di Singapura. Ia memiliki kekayaan US$ 490 juta.
Kesuksesannya itu tidak membuatnya terpaku. Ia terus berupaya melebarkan sayap bisnisnya.
Setahun belakangan Chandran mulai tertarik bermain di bisnis bio fuel. Soalnya bahan bakar berbahan nabati ini sedang naik daun. Selain berharga murah juga ramah lingkungan.
Permintaan bio fuel di sejumlah negara, terutama Eropa terus meningkat. Peluang ini ingin dimanfaatkan Chandran. Berdasarkan penelusuran detikcom, enterpreneur sukses ini kemudian melirik industri pengolahan minyak sawit di Riau yang dikelola PT Bukit Kapur Reksa (BKR). Soalnya pada Februari tahun ini pabrik yang mengolah minyak sawit menjadi biodiesel itu mulai berproduksi. Kapasitas produksinya tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 1,050 juta ton per tahun.
PT BKR adalah anak peruahaan Wilmar Corporation, yang bermarkas di Singapura. Perusahaan agrobisnis terbesar di Asia ini didirikan oleh Martua Sitorus, pengusaha pribumi asal
Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dan sejak tahun 2006, Wilmar mulai merintis bisnis biodiesel untuk kepentingan transportasi.
Nah, bagi Chandran ekspansi bisnis Wilmar bisa menjadi prosepek yang menarik. Ia kemudian berniat menyalurkan bahan bakar biodiesel ini ke sejumlah negara di Eropa dan Amerika, yang selama ini menjadi wilayah bisnisnya.
Untuk bisa mengangkut minyak biodiesel dari pabrik BKR di Dumai, Riau, ia kemudian berencana membeli sejumlah saham di PT Gandaerah Hendana (GH). Perusahaan ini adalah suplayer biodiesel dari PT BKR.
Setelah beberapa kali bertemu di Singapura dengan bos PT GH, Chandran selanjutnya ingin melihat pabrik pengolahan biodiesel di Dumai dan perkebunan kelapa sawit milik PT BKR dan PT GH di Indragirihulu, Riau. Akhir pekan Chandran kemudian terbang ke Riau bersama Hendri Terry, rekan bisnisnya.
Para bos PT GH telah mempersiapkan alat transportasi untuk kepentingan survei Chandran. Karena lokasi pabrik pengolahan biodiesel dan kebun kelapa sawit sangat berjauhan-sekitar 300 kilometer-, PT GH menyewa helikopter Twin Pack S-58 milik TNI AU yang harga sewanya murah meriah. Selain itu kapasitas penumpang juga banyak, yakni bisa mengangkut 12 orang, termasuk awak pesawat.
Sumber detikcom di Pangkalan Udara Pekanbaru mengatakan, untuk menyewa pesawat berbaling-baling itu dikenakan biaya Rp 18 juta per jam. Minimal waktu sewa adalah 2 jam dan kelipatannya. Tarif sewa itu sudah bersih, termasuk biaya parkir dan bayaran awak pesawat.
"Harga sewa helikopter ini paling murah dibanding sewa helikopter milik Caltex dan Dulta Palma, yang harganya di atas Rp 20 juta per jam," ujar sumber yang enggan disebut namanya.
Helikopter milik TNI AU ini memang sering digunakan beberapa kalangan di Riau. Umumnya untuk melihat atau mengunjungi perkebunan kelapa sawit yang membentang di berbagai penjuru bumi lancang kuning.
Beberapa NGO dan masyarakat sipil lainnya pun sering menggunakannya untuk beragam kepentingan. Bisa dibilang, helikopter itu sering wara-wiri di langit Pekanbaru, sekalipun di luar jadwal tugas atau latihan.
Sementara salah seorang staf PT DH yang ditemui di rumah sakit Awal Bros Pekanbaru menjelaskan, kebijakan menyewa helikopter milik TNI AU karena kapasitasnya yang banyak.
Sebab pesawat bekas perang Vietnam ini diperuntukan untuk mengangkut pasukan. Sehingga punya banyak tempat duduk dibanding helikopter sewaan lainnya yang hanya mampu mengangkut empat penumpang termasuk pilot dan copilot.
Ia juga menjelaskan, soal sewa-menyewa helikopter ini bukan atas nama perusahaan."Yang menyewa helikopter itu salah satu direksi yang ikut dalam rombongan".
Tapi pria berkulit putih ini mengaku tidak tahu siapa direksi yang melakukan transaksi sewa- menyewa dengan petinggi TNI AU di Lanud Pekanbaru. Yang ia tahu, pimpinannya sedang menjajaki kerjasama dengan Chandran dari Chemoil Energy dan mengajaknya untuk melakukan survei.
Lain lagi menurut Direktur NGO Scale Up, Ahmad Zazali. Menurutnya, alasan menyewa helikopter milik TNI itu lebih bertujuan keamanan. Sebab setahun terakhir PT GH sedang bersengketa dengan masyarakat Desa Bandar Balam, Kecamatan Lirik, Indragirihulu. Sengketa ini menyangkut perebutan lahan seluas 504 hektar lahan masyarakat yang diserobot PT GH untuk perkebunan kelapa sawit.
Buntut perseteruan itu membuat Arifin, Kepala Desa Bandar Balam sempat ditahan. Jadi menurut Gozali, selain bisa menggunakan pesawat untuk survei, mereka juga merasa aman. "Anggota TNI itu sekalian menjadi beking mereka," jelas Zazali, salah seorang aktivis lingkungan hidup di Riau.
Dengan menggunakan pesawat milik TNI, imbuh Gozali, diharapkan bisa menyamankan hati Chandran. Sehingga miliarder dari negeri singa merasa aman saat melihat-lihat perkebunan kelapa sawit.
Tapi malang tak dapat ditebak. Usai melakukan beberapa kali pemotretan lokasi perkebunan, Helikopter yang membawanya terbang kemudian tersungkur di tengah perkebunan kelapa sawit, Senin, 7 Januari, lalu. Ia pun tewas dalam kejadian itu. (ddg/iy)











































