Rasanya bosan mendengar berita Soeharto masuk rumah sakit. Tetapi toh kita selalu mengikutinya. Maklum, bangsa ini pernah merasakan tindak tanduknya selama 32 tahun menjadi presiden. Banyak yang mendapat nikmat ketika berkuasa, tetapi yang mendapat derita juga tak sedikit. Semuanya ingin tahu sampai di mana ketangguhan tokoh hebat ini menghadapi rongrongan penyakit di usia tua.
Para bekas anak buah dan kroni selalu minta agar Soeharto dimaafkan, perkaranya yang mandeg di pengadilan dihentikan. Sementara orang-orang yang pernah ditindasnya, berkeras agar Soeharto diadili. Dimaafkan itu pasti, tapi dia harus diadili terlebih dahulu. Bagaimana memaafkan orang yang belum jelas kesalahannya?
Begitulah, Soeharto sakit, maka suhu politik memanas. Prokontra soal maaf-memaafkan muncul kembali. Para mahasiswa bersiap menggelar demo, orang-orang dekat Soeharto menggalang massa untuk menandinginya. Tak apa asal semua terkendali. Dan itulah yang terjadi selama ini. Hanya saja tahun ini keadaannya bisa lain. Suhu bisa lebih tinggi, karena 21 Mei 2008 nanti, genap 10 tahun Soeharto tumbang. Peringatan pasti membesar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY-Kalla jelas menghadapi dilema. Merespons positif tuntutan untuk menuntaskan kasus Soeharto berhadapan dengan kenyataan sistem pengadilan yang mandeg di satu pihak; juga menghadapi kultur mikul dhuwur mendem jero, keharusan untuk menghormati orang tua, di pihak lain. Tetapi mengabaikan tuntutan demonstran, citra buruk akan jadi dampaknya. Bagaimana pun, tidak hanya mahasiswa yang menghendaki kasus Soeharto dituntaskan, sikap media juga dalam posisi demikian.
Tentu akan lebih baik buat SBY-Kalla, bila prokontra Soeharto yang selalu muncul setiap kali yang bersangkutan masuk rumah sakit, sebaiknya tidak terjadi menjelang 21 Mei 2008 nanti. Artinya, peringatan 10 tahun jatuhnya Orde Baru, akan lebih baik buat pemerintah jika tidak ada lagi tuntutan pengadilan Soeharto. Kita pun menangkap pesan itu jumpa pers di Istana: bangsa ini harus bersiap-siap ditinggalkan tokoh pentingnya. Disampaikan dengan nada prihatin, tapi sesungguhnya itu lebih melegakan buat pemerintah.
Keterangan Penulis:
Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(diks/iy)











































