Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, akan membawa pesan bahwa Indonesia tidak perlu lagi membuka hutan untuk mencapai swasembada pangan. Pesan itu akan disampaikan dalam konferensi iklim COP31 di Antalya, Turki, pada November nanti.
Hal itu dikatakan Hashim, selaku ketua delegasi dalam konferensi pers persiapan COP-31 UNFCCC, di wilayah Jakarta, Senin (12/10/2026). Hashim menyebut rencana pembukaan hutan hingga sekitar 2 juta hektare untuk memperluas lahan pertanian dinilai tidak lagi diperlukan.
"Satu pesan yang penting yang saya akan bawa sebagai utusan khusus di Turki bahwa Indonesia tidak perlu lagi membuka lahan atau membuka hutan untuk produksi dan untuk swasembada pangan. Karena sudah tercapai," kata Hashim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hashim mengklaim Indonesia telah mencapai swasembada beras tiga tahun lebih cepat dari target awal pada 2029. Dia juga menyebut stok beras yang dihimpun di gudang pemerintah dan swasta telah mencapai 5,3 juta ton.
Bahkan, menurut dia, pemerintah telah memutuskan untuk mengekspor beras karena persediaan yang melimpah. Malaysia disebut menjadi salah satu negara tujuan ekspor dengan volume yang dilaporkan mencapai 500 ribu ton.
"Bahkan karena begitu penuh, kita sudah mencapai bahkan pemerintah memutuskan untuk ekspor beras. Yang pertama adalah Malaysia. Kami dapat laporan 500 ribu ton akan dijual ke Malaysia, akan diekspor," katanya
"Karena sukses dalam bidang produksi pangan, maka tidak perlu lagi seolah-olah merusak atau menebang hutan primer. Tidak perlu lagi," tegasnya.
Selain soal swasembada pangan, Hashim mengatakan Indonesia akan membawa sejumlah pencapaian dalam memenuhi komitmen yang disampaikan pada COP30 di Belem, Brasil, serta pertemuan lanjutan di Sao Paulo dan Rio de Janeiro tahun lalu.
Salah satu hal yang disorot ialah komitmen membangun pasar karbon yang transparan dan berintegritas tinggi. Menurut Hashim, sistem tersebut harus didukung data yang kredibel sehingga dapat dipercaya.
"Dan saya bisa katakan bahwa yang sudah tercapai adalah banyak sekali, terutama di bidang pasar karbon. Dan sudah terwujud suatu sistem registrasi unit karbon. Itu tanggal 9 Juli. Dan ini menunjukkan kerjasama yang luar biasa, koordinasi yang erat antara berbagai kementerian dan lembaga," ujarnya.
Lebih lanjut, Hashim berharap berbagai pencapaian tersebut dapat menjadi bagian dari pesan Indonesia dalam forum iklim internasional.
Dengan demikian, pemerintah ingin menegaskan bahwa target swasembada pangan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga hutan, berdasarkan klaim bahwa kapasitas lahan pertanian yang tersedia saat ini sudah mencukupi kebutuhan nasional.
Simak juga Video Zulhas: Kita Harus Swasembada Pangan karena Itu Kehormatan Petani RI
(azh/ygs)









































