Total lima warga negara Malaysia ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) terkait kasus penyelundupan narkoba. Kelimanya menyelundupkan narkoba di bagian insole dalam sepatu mereka.
Kelima warga Malaysia itu bernama Mohamad Zulhusni (49), Nur Aisyah (25), Emmanuel (24), Prince Alvin Robin (22), dan Muhammad Adam (21). Petugas juga menangkap seorang WNI bernama Satria Surya Sumantri (36).
"Lima WN Malaysia berperan sebagai kurir dan SSS sebagai sopir penjemput," kata Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Irjen Eko Hadi Santoso dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (29/9/2026).
Penyelundupan ini terungkap saat lima pelaku mendarat di Terminal 2F Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat (25/9). Mereka terbang bersama dari Kuala Lumpur, Malaysia.
Petugas Bea Cukai yang mencurigai gerak-gerik mereka langsung melakukan pemeriksaan. Hasilnya, tiap pelaku diketahui menyelundupkan dua bungkus serbuk putih yang disembunyikan di bagian sol dalam sepatu mereka.
"Dari hasil pemeriksaan awal, masing-masing membawa dua bungkus serbuk yang diduga etomidate dengan berat sekitar 500 gram per bungkus. Barang tersebut disembunyikan di bagian insole sepatu. Secara keseluruhan ditemukan 10 bungkus dengan berat (total) 5 kg," ungkap Eko.
Dari hasil interogasi terhadap para pelaku, mereka mengaku dikendalikan oleh seorang dengan nama panggilan 'Madam' melalui komunikasi aplikasi Telegram. Setiba di Jakarta, 'Madam' menginstruksikan mereka menuju sebuah hotel di Harmoni, Jakarta Pusat.
Di lokasi tersebut, seluruh sepatu yang berisikan serbuk etomidate dimasukkan ke koper berwarna merah untuk diserahkan kepada seorang WN China bernama Wu Song (25).
"Para WNA tersebut diarahkan oleh 'Madam' menuju Yello Hotel Harmoni Jakarta dan mengumpulkan semua sepatu yang berisi narkotika jenis etomidate ke dalam koper berwarna merah untuk diserahkan kepada seorang pria di lobi hotel atas nama Wu Song," lanjut Eko.
Tim gabungan langsung menangkap Wu Song di lobi hotel. Saat digeledah, petugas menemukan kunci unit kamar Apartemen Mediterania Marina Residence yang berlokasi di Jakarta Utara.
Penyidik kemudian melakukan pengembangan ke apartemen di kawasan Jakarta Utara. Di kamar apartemen ini penyidik menemukan pabrik rahasia perakitan pods vape etomidate.
"Unit apartemen tersebut diduga menjadi Clandestine lab pembuatan narkotika jenis etomidate, adapun di dalam unit apartemen ditemukan beberapa kelengkapan dan peralatan pembuatan vape jenis etomidate," sebut Eko.
Di dalam unit apartemen tersebut, polisi menyita bahan baku dan alat perakitan vape etomidate seperti 16 jeriken ukuran 5 liter cairan perasa warna putih terbungkus aluminium foil dan 5 botol cairan warna putih ukuran 1 liter terbungkus aluminium foil.
Kemudian, 21 ribu buah pods vape kosong; 15 ribu buah silicon caps pods vape; 2 plastik bening berisi segel pods; 800 buah pipet plastik; hingga 4.715 kemasan pods aneka rasa.
Bahan baku dan alat perakitan vape etomidate bernilai Rp127,5 miliar. "Berdasarkan penghitungan sementara tersebut, barang bukti diperkirakan berkaitan dengan potensi peredaran sekitar 42.500 pods, dengan estimasi penyelamatan sekitar 21.250 jiwa," pungkas Eko.
Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat dengan Pasal 119 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo UU No 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo UU No 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf b UU No 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
Lihat juga Video: Malaysia Selidiki Lolosnya Kopilot Kurir 26 Kg Ekstasi ke Indonesia
(ond/ygs)