'Bismillah, C'est Les Ténèbres' Jadi Slogan Demo di Prancis, Apa Maksudnya?

'Bismillah, C'est Les Ténèbres' Jadi Slogan Demo di Prancis, Apa Maksudnya?

Haris Fadhil - detikNews
Kamis, 22 Okt 2026 16:26 WIB
French high school and university students attend a demonstration in Nantes as part of an ongoing protest movement demanding better school conditions and government action, France, October 15, 2026. The slogan on the placard reads
Foto: Pendemo di Prancis (REUTERS/Stephane Mahe)
Paris -

Seruan tak terduga 'Bismillah, c'est les ténèbres' muncul sebagai slogan yang digunakan para pendemo di Prancis. Apa maksudnya?

Dilansir Al Jazeera, Kamis (22/10/2026), secara harfiah, slogan tidak resmi ini tidak memiliki makna yang jelas. Namun, para pelajar menggunakan ungkapan yang terdengar ganjil ini untuk menyuarakan berbagai keluhan yang menjadi akar gerakan protes.

Slogan ini ditujukan untuk menyindir stereotip rasial yang dilakukan oleh polisi saat menangani demo. 'Bismillah' dalam slogan itu berasal dari bahasa Arab yang berarti 'dengan menyebut nama Tuhan'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ungkapan ini lazim digunakan oleh umat Muslim sebelum memulai suatu kegiatan. Dalam bahasa gaul Prancis, maknanya telah bergeser, lebih menyerupai seruan 'ayo kita lakukan'.

Sementara, 'C'est les ténèbres' secara harfiah berarti 'ini adalah kegelapan'. Kalimat itu digunakan para pendemo untuk menggambarkan situasi Prancis yang mereka anggap suram dan tanpa harapan.

ADVERTISEMENT

Dengan demikian, slogan tersebut dapat diartikan sebagai 'Demi Tuhan, ini adalah kegelapan', sebuah frasa yang sebenarnya tidak menyampaikan pesan yang lugas. Lalu, dari mana asal slogan ini?

French high school and university students attend a demonstration in Nantes as part of an ongoing protest movement demanding better school conditions and government action, France, October 15, 2026. The slogan on the placard reads Foto: Pendemo di Prancis (REUTERS/Stephane Mahe)

Menurut para pelajar, ungkapan tersebut merupakan bentuk sindiran terhadap kepolisian, yang sempat mencoba menyusup ke dalam percakapan media sosial yang digunakan oleh para pengunjuk rasa untuk berkoordinasi. Tangkapan layar percakapan di Snapchat yang memuat ungkapan tersebut mulai beredar pada awal Oktober.

Dalam percakapan itu, seorang pengguna bernama Mamadou meminta untuk dimasukkan ke dalam sebuah grup dengan berkata 'Hai, demi Tuhan, ini adalah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, kawan?'. Pesan tersebut juga menyertakan emoji bendera Aljazair.

Para pelajar mengatakan pesan itu dikirim oleh petugas polisi yang menyamar, yang mencoba menyusup ke dalam percakapan mereka dengan menggunakan campuran bahasa Arab dan bahasa gaul yang terasa janggal. Klaim ini belum diverifikasi, dan pihak berwenang Prancis belum memberikan pernyataan apa pun.

Youssef El Chazli, lektor kepala bidang sosiologi Arab dan Mediterania di Universitas Paris 8 Vincennes, Saint-Denis, mengatakan ungkapan tersebut 'memperkuat citra polisi Prancis yang tidak memahami realitas lapangan dan penuh dengan stereotip'.

"Stereotip semacam itu tampaknya secara tidak proporsional menyasar kaum muda keturunan Arab dan Afrika. Ini menjadi contoh lain betapa lembaga negara tampak tidak memahami dinamika gerakan yang sedang berlangsung saat ini," ujar El Chazli.

Slogan itu kini telah muncul pada papan-papan karton sebagai bentuk protes terhadap stereotip rasial, sekaligus simbol betapa pihak berwenang tidak memahami realitas kehidupan kaum muda. Slogan ini bahkan telah menyebar hingga ke Italia dan Belgia, tempat aksi protes serupa, terkait tingginya biaya hidup dan buruknya kualitas pendidikan, juga berlangsung selama akhir pekan.

El Chazli menuturkan meme satir dan tren internet telah menjadi sarana untuk menyuarakan keluhan politik dalam aksi protes, yang secara tradisional memang selalu bersifat 'inventif dan kreatif'. Diskusi seputar Islamofobia juga menjadi sorotan utama dalam perdebatan publik.

French high school and university students attend a demonstration in Nantes as part of an ongoing protest movement demanding better school conditions and government action, France, October 15, 2026. The slogan on the placard reads Foto: Pendemo di Prancis (REUTERS/Stephane Mahe)

Pihak berwenang Prancis cenderung enggan berkomentar secara terbuka mengenai lonjakan signifikan tindakan Islamofobia di negara tersebut. Sebuah laporan yang dikutip oleh kantor berita Reuters tahun lalu menunjukkan peningkatan sebesar 72% dalam insiden semacam itu selama kuartal Januari-Maret 2025 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024.

Kelompok sayap kanan Prancis dengan cepat menggunakan bahasa rasis untuk menyalahkan pemuda Muslim atas kekerasan yang terjadi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut berkomentar dengan mengklaim bahwa hal ini berkaitan dengan 'keinginan Islam untuk mengambil alih'.

"Apa yang 20 tahun lalu dianggap sebagai isu yang tidak relevan, kini menjadi pokok perdebatan," ujar El Chazli. Bagi generasi yang lebih muda, pengaruh Arab dan Afrika kian menjadi arus utama dalam subkultur kaum muda, berkat peran tokoh-tokoh di bidang olahraga dan seni, serta kehadiran berbagai acara radio maupun konten media sosial yang baru.

Simak juga Video 'Buntut Demo Ricuh, Prancis Terapkan Jam Malam di Berbagai Wilayah':

Halaman 2 dari 4
(haf/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini