Daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, setelah erupsi terjadi beberapa waktu lalu. Gunung Anak Krakatau sendiri juga muncul lewat proses bertahun-tahun usai letusan dahsyat Gunung Krakatau.
Dikutip dari kajian Badan Geologi, proses terbentuknya Gunung Anak Krakatau sangatlah panjang. Semua bermula dari Gunung Krakatau.
Awalnya, Krakatau dianggap sebuah kerucut gunung api besar. Kemudian, diperkirakan pada abad ke-5 masehi, terjadi letusan besar yang membentuk kaldera atau cekungan raksasa di puncak gunung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari proses pembentukan kaldera ini, tersisa beberapa tiga pulau, yaitu Verlatern, Lang dan Rakata. Di tempat Rakata berada, muncul kerucut gunung api baru yang juga disebut Gunung Rakata, dengan susunan atas batuan basaltik.
Di tengah-tengah cekungan kaldera tersebut, muncul dua kerucut gunung api baru Perbuwatan dan Danan, yang semakin besar dan akhirnya, menyatu dengan Rakata disebut Gunung Krakatau.
Berdasarkan kajian, Gunung Krakatau mengalami erupsi dengan komposisi andesitik pada 1680.
Erupsi Hebat Gunung Krakatau
Kemudian pada tanggal 20 Mei 1883, sesudah tenang selama dua abad, erupsi besar terjadi kembali. Erupsi mengalami puncaknya pada 26 dan 28 Agustus 1883, inilah letusan Gunung Krakatau yang paling dikenal karena kedahsyatannya. Erupsi diperkirakan menghasilkan batu apung dan abu sebanyak 18 km3
Gunung api Perbuatan, Danan dan setengah dari Rakata hilang ambles. Meninggalkan sebuah cekungan baru dengan kedalaman 250 m dan diameter 70 km.
Proses amblesnya Krakatau tersebut menimbulkan gelombang pasang 20 meter menyapu pantai-pantai di Selat Sunda, Jawa bagian barat, dan mengakibatkan 36.417 orang tewas.
Proses Vulkanik 44 Tahun
Selama berpuluh-puluh tahun, proses vulkanik terjadi usai erupsi tersebut. Selanjutnya, muncullah kerucut gunung api baru yang disebut Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau lahir pada Bulan Desember 1927 atau 44 tahun setelah erupsi besar.
Dataran Baru Setelah Erupsi Gunung Anak Krakatau
Kini, dataran baru kembali muncul di kawasan itu. Daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, setelah erupsi terjadi beberapa waktu lalu. Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkap daratan baru tersebut seluas 32,8 hektare.
"Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 ha," kata Kepala PVMBG, Badan Geologi Kementerian ESDM, SS Rita Susilawati, di laman media sosial Badan Geologi, Kamis (24/9/2026).
Kemunculan daratan baru itu berada di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Selat Sunda. Hal itu juga dikonfirmasi Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau. Sebagai gambaran, daratan seluas 32,8 hektare itu nyaris seluas kompleks Candi Prambanan yang memiliki luas 39,8 hektare.
Sementara itu, kemunculan daratan baru merupakan hasil endapan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Badan Geologi memaparkan hasil evaluasi berdasarkan citra satelit Sentinel, terlihat penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau di sektor barat laut-barat-barat daya sebagai akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus pada 4-6 September 2026.
Selain itu, berdasarkan citra Sentinel terdekteksi adanya gumuk pulau kecil di sebelah barat laut dan tenggara dari tubuh Gunung Anak Krakatau. Menurut Badan Geologi, daratan luas tersebut diduga bagian dari hasil endapan erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Kemunculannya 'kedua pulau' tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam," ujar Rita.
Tonton juga video "Kok Bisa Ada Daratan Baru Dekat Anak Krakatau? Ini Kata Badan Geologi"










































