Fenomena ekuinoks (equinox) akan berlangsung pada 23 September 2026. Peristiwa astronomi ini terjadi ketika posisi Matahari melintasi garis khatulistiwa dan berlangsung secara berkala setiap tahun.
Lantas, kapan tepatnya ekuinoks September 2026 terjadi dan apa dampaknya bagi Indonesia? Berikut penjelasan mengenai fenomena tersebut.
Apa Itu Ekuinoks?
Ekuinoks merupakan fenomena astronomi ketika Matahari melintasi garis khatulistiwa. Menurut BMKG, fenomena ini berlangsung dua kali dalam setahun, yakni sekitar 21 Maret dan 23 September.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat ekuinoks, posisi Matahari berada di atas wilayah ekuator sehingga durasi siang dan malam di berbagai wilayah Bumi menjadi hampir sama. Fenomena ini berkaitan dengan kemiringan sumbu rotasi Bumi sekitar 23,5 derajat serta pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.
September ekuinoks juga menandai perubahan musim di sejumlah wilayah dunia. Merujuk penjelasan astronomi yang dihimpun Earth Sky, ekuinoks September menandai awal musim gugur di belahan Bumi utara dan awal musim semi di belahan Bumi selatan.
Ekuinoks 23 September 2026 Terjadi Pukul Berapa?
Ekuinoks September 2026 terjadi pada 23 September 2026 pukul 07.08 WIB. Waktu tersebut merupakan saat Matahari melintasi ekuator dalam perjalanan semu dari belahan Bumi utara menuju selatan. Pada tanggal yang sama, posisi Matahari berada sangat dekat dengan garis ekuator langit.
Ekuinoks September tidak selalu terjadi pada tanggal yang sama setiap tahun. Data perhitungan astronomi, seperti dilansir In The Sky, menunjukkan waktunya dapat bergeser, misalnya pada 2025 terjadi 23 September pukul 01.20 WIB, sedangkan pada 2027 diperkirakan berlangsung 23 September pukul 13.06 WIB.
Dampak Ekuinoks bagi Indonesia
Menurut BMKG, fenomena ekuinoks dapat membuat wilayah tropis di sekitar ekuator memperoleh penyinaran Matahari yang relatif maksimum. Kondisi tersebut dapat membuat cuaca terasa panas pada periode tertentu.
Namun, BMKG menegaskan ekuinoks tidak selalu menyebabkan peningkatan suhu udara secara drastis atau ekstrem. Dalam penjelasan resminya, BMKG menyebut rata-rata suhu maksimum di Indonesia berada pada kisaran 32-36 derajat celsius.
Perubahan cuaca dan suhu di Indonesia juga dipengaruhi berbagai faktor meteorologis lainnya. Karena itu, kondisi panas yang terjadi di suatu wilayah tidak dapat langsung dikaitkan hanya dengan fenomena ekuinoks.
Apakah Ekuinoks Berbahaya?
BMKG menyebut masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan ekuinoks sebagai fenomena yang secara langsung menyebabkan suhu ekstrem. Ekuinoks merupakan fenomena astronomi yang terjadi secara rutin.
BMKG juga menjelaskan ekuinoks berbeda dengan gelombang panas atau heat wave, yang ditandai peningkatan suhu udara ekstrem di luar kondisi normal dan dapat berlangsung dalam waktu cukup lama. Masyarakat tetap disarankan menjaga kesehatan dan mengantisipasi kondisi cuaca panas, terutama ketika memasuki periode peralihan musim.
Dengan begitu, ekuinoks 23 September 2026 merupakan fenomena astronomi yang berlangsung secara berkala. Di Indonesia, fenomena ini dapat berpengaruh terhadap penyinaran Matahari, tetapi tidak secara otomatis menyebabkan suhu ekstrem atau kondisi berbahaya.
Lihat juga Video: Gerhana Matahari Total Pekan Depan Bisa Dilihat dari Mana Saja?










































