Namun dua hari setelah Samsiah ditemukan beritanya jadi berbeda. Versi polisi, Samsiah ternyata tidak pernah diculik. Samsiah diduga sengaja mengarang cerita untuk menghindari amarah Acun Mansyur, ayahnya, lantaran bolos sekolah. Begitupun dengan keterangan soal penculikan enam siswa lainnya,
Masih menurut keterangan polisi, kejadian sebenarnya adalah Ai bersama kekasihnya, Dadang berangkat ke Bogor dan berpisah di Bogor. Alkisah, kata polisi, Dadang akan bekerja di salah satu perusahaan di kota itu. "Saya mohon maaf kepada Pak Polisi, masyarakat, keluarga, dan pihak sekolah karena saya sudah berbohong," begitu kata Samsiah di Polsek Warungkiara Kabupaten Sukabumi.
Bukan itu saja, Samsiah juga disebut sering berhalusinasi. Sehingga ia mampu merekayasa peristiwa yang tidak pernah dialaminya. "Ceritanya banyak kejanggalan. Jadi kami berkesimpulan ia telah berbohong," kata Kapolres Sukabumi AKBP Guntor Gaffar kepada detikcom.
Lain lagi versi keluarga Samsiah. Acun, ayah Samsiah menyangkal kalau anaknya telah berkata bohong. Ia menuding justru pihak polisi yang bikin akal-akalan dengan memaksa Samsiah untuk berkata bohong soal penculikan itu.
Kata Acun, setelah Samsiah pulang ke rumah 28 November, polisi kemudian menjemputnya. Alasan polisi saat itu ingin melakukan rekontruksi di Bogor, tempat Samsiah lolos dari aksi penculikan. Selain Samsiah, polisi juga membawa serta Ebah, ibunya serta Acon sang paman.
Namun tiba-tiba polisi berubah haluan. Samsiah dan keluarganya ternyata tidak dibawa ke Bogor seperti yang dikatakan polisi sebelumnya. Mereka justru dibawa ke polsek Warungkiara. Di tempat itu Wakapolres Sukabumi Kompol Hery Santoso dan Kasat Reskrim AKP Jajang Tariadi memberikan pertanyaan kepada Samsiah selama 5 jam. Saat diperiksa Samsiah hanya ditemani ibunya.
Seusai diperiksa, Wakapolres keluar dari ruangan Kapolsek dan mengatakan Samsiah telah membuat cerita bohong. Namun, Hery melarang wartawan yang sedari awal menunggu untuk bertanya-yanya kepada Samsiah dan keluarganya. Baru ketika didesak, polisi mengijinkan wartawan mewancara ibu dan paman Samsiah.
Tidak berapa lama Acon disuruh tandatangan surat pencabutan laporan penculikan tersebut. Sementara Samsiah saat itu tiba-tiba menangis dan pingsan di pangkuan ibunya. Acun yang ditemui detikcom di rumahnya mengatakan, saat itu Samsiah tertekan. Soalnya gadis itu dipaksa berbohong oleh polisi dengan mengatakan kalau ia tidak pernah diculik.
Acun punya alasan kenapa Samsiah dipaksa bohong oleh polisi. Sebab sepengetahuannya, Ai tidak pernah berbohong. Lagi pula, ujar Acun, saat peristiwa itu, anak keduanya tersebut memang sedang tidak enak badan dan tidak masuk sekolah. Jadi tidak ada alasan untuk takut dimarahi jika membolos. "Untuk apa ia bikin cerita bohong," kata Acun.
Beberapa tetangga Samsiah di Kampung Serpe, Desa Mangunjaya, Kecamatan Bantar Gadung, menduga kalau polisi telah merekayasa pernyataan Samsiah. Sebab setahu mereka Samsiah adalah anak yang penurut dan patuh. Jadi tidak mungkin kalau ia berbohong. "Mungkin polisinya saja yang malas," celetuk salah seorang pemuda setempat.
Kehidupan keluarga Acun memang sangat sederhana sekali. Malah mendekati kehidupan kaum duafa. Letak rumahnya berada di perbukitan dan jauh dari keramaian. Untuk mencapai rumah Samsiah dibutuhkan waktu tiga jam dari Kota Sukabumi plus berjalan kaki sejauh satu kilometer melalui jalan setapak.
Samsiah merupakan anak kedua dari pasangan Acun Mansyur dan Ebah. Acun menghidupi keluarga hanya mengandalkan gaji yang dia terima sebagai pegawai perpustakaan di Kota Sukabumi.
Untuk ongkos sekolah Samsiah, orang tuanya hanya membekali uang saku Rp 3.500. Untuk menghemat biaya Samsiah selalu diantar oleh kakaknya dengan sepeda motor. Baju seragam Samsiah pun hanya satu stel. Seragam itu selalu dicuci setelah pulang dari sekolah untuk dipakai keesokan harinya.
Keluarga Acun menduga, polisi enggan mengusut kasus penculikan tersebut lantaran kehidupan ekonominya yang pas-pasan. Padahal bisa saja Samsiah merupakan salah satu korban sindikat perdagangan anak dan perempuan. Apalagi kasus semacam ini memang marak di Sukabumi. (ddg/ddg)











































