Presiden Prabowo Subianto menghadiri hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 di India. Pada hari kedua ini, Prabowo hadir dalam sesi terbuka KTT BRICS.
Berdasarkan YouTube Setpres, Minggu (12/9/2026), KTT ke-18 BRICS 2026 digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, India, dipimpin oleh PM India Sri Narendra Modi. Turut hadir Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, hingga kepala negara dan pemerintahan lainnya yang mayoritas negara-negara belahan bumi selatan.
Sebelum sesi terbuka dimulai, seluruh kepala negara dan pemerintah anggota BRICS foto bersama. Pada saat foto bersama, Prabowo tampak diapi oleh Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Kemeluly Tokayev dan Presiden Mesir Abdel Fattah Saeed Hussein Khalil El-Sisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rapat kemudian dibuka oleh PM India Narendra Modi selaku tuan rumah KTT BRICS kali ini. Prabowo yang menggenakan beskap warna abu-abu duduk diapit oleh Kemeluly Tokayev dan El-Sisi.
Dalam forum sesi terbatas pada hari sebelumnya, Prabowo mengajak para pemimpin dunia itu membayangkan apa yang dapat dicapai BRICS jika kekuatan ini dikerahkan sepenuhnya untuk membantu menjamin pasokan pangan dan energi.
Selain itu, Prabowo menilai BRICS dapat menciptakan peluang yang lebih besar bagi negara-negara berkembang jika pasar, modal, sumber daya, teknologi, dan pengetahuan terhubung dengan lebih baik.
"Bayangkan jika negara-negara di belahan bumi selatan dapat berbicara dengan lebih percaya diri dan lebih terkoordinasi dalam membentuk lembaga-lembaga yang mengatur dunia kita, dalam melindungi dan meningkatkan perdamaian, dalam memperjuangkan keadilan," ujar Prabowo.
Prabowo menilai jika cara dan tujuan tersebut bisa dicapai, dapat mendukung negara-negara maju dan berkembang. Untuk mencapai cita-cita, Prabowo ingin menempatkan PBB sebagai pusatnya, karena PBB forum berkumpulnya seluruh negara dunia.
"Bersama-sama, kita dapat membangun sistem multilateral yang lebih kuat yang mendukung kebutuhan dan kepentingan semua bangsa, baik besar maupun kecil, kuat maupun lemah. Agar upaya ini berhasil, kita harus menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pusat dari sistem tersebut," ucapnya.
Namun Prabowo memberikan catatan bahwa PBB harus direformasi untuk menjalankan peran yang efektif sehingga PBB dapat lebih tanggap dan berdampak bagi seluruh masyarakat dunia.
"Sebab, PBB tetap menjadi satu-satunya institusi multilateral tempat semua bangsa berkumpul sebagai pihak yang setara. Dan agar PBB dapat menjalankan peran sentralnya secara efektif, institusi ini harus direformasi. PBB harus menjadi lebih representatif, lebih tanggap, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi masyarakat kita," imbuhnya.










































