Kemensos, BPS, dan CELIOS Duduk Bersama Bahas Polemik Desil

Kemensos, BPS, dan CELIOS Duduk Bersama Bahas Polemik Desil

Hana Nushratu Uzma - detikNews
Jumat, 11 Sep 2026 21:06 WIB
Kemensos, BPS, dan Celios Duduk Bersama Bahas Polemik Desil
Foto: Kemensos
Jakarta -

Kementerian Sosial RI (Kemensos) bersama Badan Pusat Statistik RI (BPS), akademisi, dan peneliti secara terbuka mengulas polemik tentang desil dan ketepatan sasaran bantuan sosial (bansos) yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.

Dalam Diskusi Metodologi Penentuan Desil dan Pengukuran Kemiskinan di Indonesia yang digelar di Auditorium Politeknik Statistika STIS, Jakarta, semua materi diulas mulai dari cara penentuan desil, keterbatasan, hingga ruang perbaikan untuk meningkatkan ketepatan sasaran bansos.

Tenaga Ahli (TA) Mensos Bidang Perencanaan dan Evaluasi Kebijakan Strategis Kemensos Andy Kurniawan menjelaskan desil diperlukan karena program perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako bersifat targeted. Ketika jumlah masyarakat yang membutuhkan lebih besar daripada kapasitas program, pemerintah perlu menentukan prioritas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau di sini ada 100 orang miskin, ternyata pemerintah hanya punya uang untuk 80 orang, maka pemerintah harus memilih siapa 80 orang itu. Caranya bagaimana?," kata Andy, dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9/2026).

"Kita ranking mulai dari yang paling tidak mampu. Itulah sebenarnya fungsi desil," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Andy, salah satu persoalan ketidaktepatan sasaran sebelumnya adalah basis data yang belum mencakup seluruh penduduk. Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), misalnya, memuat sekitar 43% populasi sehingga masyarakat yang membutuhkan bantuan, berpotensi belum tercatat.

"Kalau ada pertanyaan kenapa si A dapat bansos, si B tidak dapat bansos, padahal sama-sama miskin, jawabannya bisa sederhana, karena belum masuk data. Dari situ saja sudah bisa dipastikan ada potensi exclusion error," ujar Andy.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mengintegrasikan berbagai sumber data menjadi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sejak digunakan sebagai basis penyaluran bansos pada Triwulan II 2025, sebanyak 4,3 juta lebih Keluarga Penerima Manfaat (KPM) baru pada desil 1-4 yang sebelumnya tidak menerima bansos kini memperoleh bantuan.

Andy menambahkan, perbaikan sasaran dilakukan bertahap agar tidak menimbulkan guncangan mendadak. Jika pada awal 2025 penerima PKH dan Program Sembako masih tersebar hingga desil atas, pada Triwulan III 2026 penerima kedua program telah diarahkan pada desil 1-4.

"Kita tidak bisa langsung memindahkan semuanya sekaligus. Masyarakat tidak boleh mengalami shock sebesar itu. Maka pemerintah melakukannya secara bertahap," kata Andy.

Andy menegaskan pemerintah terbuka terhadap masukan dan mengakui masih terdapat ruang perbaikan, termasuk dari Founder Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Media Askar Wahyudi.

"Dari seluruh komentar Mas Media, tidak satu pun yang kita tolak. Semuanya oke," kata Andy.

"Kita harus jujur bahwa sekarang masih ada kelemahan dan kita harus terus memperbaikinya," sambungnya.

Andy mengibaratkan pembenahan DTSEN seperti memperbaiki jalan berlubang. Prosesnya dapat menimbulkan ketidaknyamanan sementara, tetapi diperlukan agar kondisi menjadi lebih baik.

"Hari ini kita sedang 'macet' dalam rangka memperbaiki jalan. Hari ini kita sedang memperbaiki DTSEN," kata Andy.

Pemerintah juga membuka ruang koreksi ketika data tidak sesuai kondisi faktual. Andy mencontohkan warga Bogor, Sri Dwi Riyati yang awalnya tercatat di atas desil 4 sehingga dinilai tidak memenuhi syarat. Setelah mengajukan sanggah dan memutakhirkan data, statusnya berubah menjadi berpotensi layak.

Untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan tidak terlewat, pemerintah juga menyiapkan Gerakan Nasional Peduli Tetangga. Melalui gerakan ini, masyarakat diajak membantu tetangga atau keluarga yang membutuhkan tetapi terkendala mendaftar sendiri, termasuk melalui peran Agen Perlinsos.

Andy memastikan temuan ketidaksesuaian di lapangan maupun masukan dari berbagai pihak akan terus ditindaklanjuti.

"Kalau ada hal-hal yang error di lapangan, semuanya kita respons. Semua masukan kita respons dan langsung kita tindak lanjuti sebagai bagian dari pemutakhiran," ujar Andy.

Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BPS Setia Pramana menjelaskan desil merupakan pemeringkatan relatif kondisi sosial ekonomi, bukan kategori yang melekat selamanya pada seseorang atau keluarga.

"Desil itu urutan, ranking. Jangan dipikirkan desil satu itu kelompok yang fixed," kata Setia.

"Dia relatif terhadap kelompok pembandingnya," sambungnya.

Pemeringkatan dilakukan dengan memperkirakan pengeluaran per kapita berdasarkan karakteristik rumah tangga, seperti kondisi rumah, komposisi keluarga, akses terhadap fasilitas dasar, dan kepemilikan aset. BPS menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT) yang terus disempurnakan dengan berbagai metode statistik dan machine learning.

Setia mengakui seperti model statistik lainnya, hasil estimasi tetap memiliki kemungkinan kesalahan sehingga kualitas dan kemutakhiran data menjadi penting.

"Ini bukan berarti sudah selesai. Ini masih berproses. Bagaimana model bisa kita improve, bagaimana mendapatkan data yang akurat dan mutakhir, itu menjadi pekerjaan kita bersama," ujar Setia.

Founder CELIOS Media Askar Wahyudi mengingatkan kesalahan data dalam program perlindungan sosial memiliki konsekuensi langsung bagi masyarakat.

"Data itu punya rasa, angka itu ada nyawanya," kata Media.

Menurut Media, perhatian perlu diberikan terhadap exclusion error agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak kehilangan akses terhadap bantuan. Ia juga mendorong pengembangan metode yang dapat menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara lebih utuh.

"Masyarakat mungkin tidak membutuhkan penjelasan tentang Proxy Means Test. Masyarakat hanya ingin agar data yang ada sesuai dengan realitas yang mereka hadapi," ujarnya.

Sebelumnya, Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan pemutakhiran data dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi kementerian/lembaga (K/L), pemerintah daerah (pemda), dan BPS.

"Sejak tahun 2025 setiap triwulan penyaluran ada perbaikan-perbaikan data penerima bansos, baik itu PKH, Bantuan Pangan Non Tunai maupun Penerima Bantuan Iuran (PBI)," kata Gus Ipul.

Upaya tersebut sejalan dengan ajakan Gus Ipul agar masyarakat ikut memastikan warga di sekitarnya yang membutuhkan dapat masuk dalam sistem Perlinsos.

"Dengan begitu, gerakan ini nanti kalau misalnya bisa berhasil menjadi gerakan dari kita semua untuk lebih peduli daripada tetangga-tetangga kita. Sebab masih banyak di sekitar kita ini yang tentu belum masuk dalam data," kata Gus Ipul.

"Bahkan disebut oleh Presiden itu mereka the invisible people, penderitaannya sendiri kadang-kadang belum nampak oleh kita," sambungnya.

Sebagai informasi, diskusi yang dimoderatori Prita Laura tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari Forum Masyarakat Statistik (FMS), International Statistical Institute (ISI), CELIOS, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), termasuk peneliti Center of Macroeconomics and Finance, serta unsur akademisi dan pemerhati statistik.

Turut hadir Kepala Pusat Data dan Informasi Kemensos Joko Widiarto, Kepala Biro (Kabiro) Humas Kemensos Devi Deliani, dan Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Nashrul Wajdi.

Tonton juga video "Kemensos soal Bansos Dipangkas Lewat Pedesilan: Kuotanya Tetap"

(akd/akd)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini