Data yang cukup mencegangkan tersebut terungkap dari banyaknya kasus yang dilaporkan dan ditangani oleh LSM Social Analysis dan Research Institute (SARI) dan yayasan KAKAK di Solo.
Ketua Pelaksana harian SARI, Zaenal Abidin saat ditemui di sela-sela peringatan Hari Anti Perdagangan Anak di Balaikota Solo, Rabu (12/12/2007) menuturkan, angka tersebut tidak merepresentasikan jumlah kasus yang sebenarnya. Sebab trafficking merupakan sebuah fenomena gunung es. Masih banyak kasus yang belum terungkap karena ancaman pelaku, ketakutan menghadapi pemeriksaan oleh aparat hukum, serta minimnya informasi hukum yang diterima korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak yang diambil dari Solo dan sekitarnya sebagian besar disalurkan ke Batam dan Surabaya. Modus yang paling sering dipakai adalah penipuan penyaluran tenaga kerja ke kota atau ke luar negeri. Kalau diambil di jalanan atau diculik, kita belum pernah temui. Yang sering terjadi justru di mal-mal, kafe-kafe atau langsung mendatangi rumah korban," katanya.
Zaenal menambahkan, daerah yang sering menjadi sasaran pelaku trafficking adalah kawasan yang memiliki kelemahan akses informasi. Misalnya kawasan Sangkrah, Banjarsari, dan Laweyan.
"Meski tak begitu jauh dari pusat kota, tapi masyarakat di kawasan itu tak punya akses informasi yang kuat. Akibatnya pelaku dengan gampang bisa menipu korbannya. Penguatan akses informasi inilah yang harus jadi perhatian utama untuk menekan kasus trafficking," tandasnya. (djo/djo)











































