Ketua DPRD DKI Minta Tarif Ragunan Tak Perlu Naik, Ini Alasannya

Ketua DPRD DKI Minta Tarif Ragunan Tak Perlu Naik, Ini Alasannya

Brigitta Belia Permata Sari - detikNews
Rabu, 09 Sep 2026 18:03 WIB
Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin (tengah)
Foto: dok.ddjp
Jakarta -

Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin menanggapi wacana kenaikan tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan hingga Rp 10 ribu. Suhud meminta kenaikan tarif tidak dilakukan jika tidak dibarengi peningkatan kualitas layanan.

Menurut Suhud, kenaikan tarif sebenarnya bisa dilakukan selama ada perubahan yang dirasakan masyarakat. Namun dia tidak setuju jika tarif dinaikkan sekadar untuk menambah pemasukan tanpa adanya pembenahan pengelolaan.

"Ya nggak setuju kalau tata kelolanya seperti itu saja. Nggak ada sesuatu yang baru yang dirasakan oleh masyarakat," kata Suhud di DPRD DKI Jakarta, Rabu (9/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suhud menilai masyarakat membutuhkan tempat hiburan yang terjangkau. Karena itu, Pemprov DKI perlu mempertimbangkan kemampuan warga sebelum menaikkan tarif.

ADVERTISEMENT

"Kalau misalnya ada sesuatu yang membuat orang wah, nah... itu saya kira naik cuma tarif sampai Rp 10 ribu sih buat orang kecil," ujarnya.

Dia kemudian mempertanyakan apa yang didapat masyarakat jika tarif dinaikkan tetapi tidak ada perubahan signifikan di Ragunan.

"Ini kan persoalannya saya dapat apa ketika saya datang ke Ragunan. Yang beda apa, orang begitu-gitu saja kok," lanjutnya.

Suhud bahkan mengaku sejak kecil hingga sekarang masih melihat kondisi Ragunan relatif tidak banyak berubah.

"Saya dari kecil sampai sekarang yang namanya Ragunan begitu-begitu saja. Benar nggak? Dari kecil kan datang Ragunan, sekarang datang lagi ya kayaknya sama saja," tuturnya.

Di sisi lain, ia mengatakan pengelola Ragunan seharusnya tidak hanya mengandalkan pendapatan dari tiket masuk. Menurutnya, ada banyak potensi lain yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan pemasukan.

Dia mencontohkan merchandise, atraksi, hingga kegiatan yang membuat pengunjung bersedia mengeluarkan uang lebih.

"Memang harus dikasih swasta karena Ragunan itu areanya luas banget. Ratusan hektare kan. Yang dipakai hewan kan cuma sebagian," jelasnya.

Menurut Suhud, area yang belum optimal bisa dimanfaatkan dengan melibatkan pihak swasta. Dengan begitu, pengelola dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan tanpa semata-mata membebankan biaya kepada pengunjung melalui kenaikan tiket.

"Perlu diundang swasta, masuk ke situ, kelola. Keren itu. Nah, ini kan persoalan kemampuan mengelola," katanya.

Suhud juga menyinggung konsep tempat wisata lain yang mampu menarik pengunjung meski memiliki berbagai produk berbayar di dalamnya. Dia mencontohkan kawasan Blok M yang ramai dikunjungi karena memiliki kuliner dan aktivitas lain.

"Orang datang cuma pengin foto, mau pengin makan. Itu mirip-miriplah," ujarnya.

Dia menilai Ragunan perlu menghadirkan daya tarik baru agar masyarakat merasa mendapatkan pengalaman berbeda ketika berkunjung.
Meski begitu, Suhud menegaskan dirinya bukan sepenuhnya menolak kenaikan tarif Ragunan. Dia hanya meminta Pemprov DKI memastikan adanya peningkatan kualitas layanan dan kreativitas pengelolaan sebelum menaikkan harga tiket.

"Jadi ini memang isunya menurut saya adalah bagaimana Ragunan itu tadi, meningkatkan kualitas layanannya kemudian juga mencari alternatif selain tiket," ucapnya.

Dia menilai kenaikan tarif, meski hanya beberapa ribu rupiah, tetap dapat menjadi beban bagi masyarakat. Ia menilai kenaikan tarif hingga Rp 10 ribu dapat dipertimbangkan apabila kualitas Ragunan sudah meningkat dan ada sesuatu yang baru yang ditawarkan kepada masyarakat.

"Jangan sampai dirasa membebani masyarakat. Kenaikan itu, walaupun tidak terlalu besar katakanlah, tapi tetap jadi beban masyarakat," imbuhnya.

Tonton juga video "Meninjau Rencana Kenaikan Harga Tiket Taman Margasatwa Ragunan"

(bel/azh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini