Sebanyak empat bandara masih ditutup karena terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Adapun abu vulkanik memang memiliki dampak kerusakan bagi mesin pesawat hingga menyebabkan mesin mati.
Dikutip dari laman Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (US. Geological Survey/USGS) masuknya abu vulkanik ke dalam mesin pesawat dapat menimbulkan dampak kerusakan yang sangat serius.
Berdasarkan pemantauan terhadap 79 insiden pesawat bertemu abu vulkanik, partikel abu vulkanik yang tajam dapat mengikis (mengabrasi) bilah kipas kompresor (compressor fan blades) saat terhisap ke dalam mesin.
Selain itu, material silikat berkaca (glassy silicate) di dalam abu vulkanik memiliki titik leleh yang lebih rendah daripada suhu pembakaran pada mesin jet modern
Akibatnya, partikel abu yang terhisap akan meleleh dengan cepat dan menumpuk sebagai endapan yang memadat kembali di bagian mesin yang lebih dingin
Endapan kaca gelap ini dapat terbentuk pada tepi depan bilah pengarah nosel turbin tekanan tinggi, sementara abu yang tidak meleleh dapat menumpuk di bagian rotor turbin tekanan tinggi
Lebih lanjut, penumpukan abu tersebut menurunkan kinerja mesin, bahkan dapat menyebabkan kemacetan kompresor saat terbang (in-flight compressor stall) dan hilangnya daya dorong (loss of thrust power)
Dari berbagai insiden yang tercatat, terdapat sembilan kejadian di mana mesin pesawat mengalami kegagalan fungsi (mati) di tengah penerbangan akibat abu vulkanik
Sebagai contoh, sebuah pesawat yang mengalami mati mesin pada keempat turbinnya akibat letusan Gunung Redoubt di Alaska pada tahun 1989.
(rdp/imk)