Emil datang ke markas CSF di Nusa Dua, Bali, Jumat (7/12/2007) sekitar pukul 16.00 WIB.
Ketika datang dan duduk di atas panggung, Emil disambut lagu yang dinyanyikan Franky Sahilatua yang berjudul "Bumi Kita Hanya Satu."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emil pun berbicara. "Kalau semua begini saya bengong, karena semuanya ditolak. Kalau semua tidak diterima, untuk apa kita berunding di sini (UNCCC)," ujar Emil.
Semakin lama suara Emil makin meninggi di tengah sorak-sarai aktivis yang terus meneriakkan penolak perdagangan karbon.
"Curah hujan menurun, suhu semakin tinggi. Kita tidak bisa meramal kapan mulai bertani. Nelayan tidak tahu kapan melaut. Karena itu kita harus bekerjasama dengan negara di seluruh dunia. Karena tidak bisa dipecahkan oleh satu negara dengan kebencian dan kemarahan. Kenapa semua di sini, karena menginginkan perubahan iklim tidak terjadi," papar Emil.
Emil mengibaratkan bumi sebagai sebuah pesawat. "Ada yang duduk di kelas satu (negara maju), ada yang duduk di kelas bisnis dan kelas ekonomi (negara berkembang). Kalau terjadi kecelakaan maka semuanya akan mati. Perundingan ini agar petani bisa bekerja, hujan tetap turun, sikap saya adalah bukan melawan apapun tetapi untuk mengajak semua bekerjasama," kata Emil.
Bak dikomando, para aktivis ramai-ramai menyoraki Emil. "Komprador...komprador...komprador...," teriak 200 orang aktivis berulang kali.
Wajah Emil tampak tegang. Mantan Menneg Lingkungan Hidup itu terdiam dan bergegas turun dari panggung.
Kenapa nggak melanjutkan, Pak? "Saya tidak akan bicara jika dianggap komprador," kata Emil sambil bergegas masuk ke dalam mobilnya.
(aan/nrl)











































