Sapi Limousine & Simental Ramaikan Pasar Hewan Qurban DKI

Sapi Limousine & Simental Ramaikan Pasar Hewan Qurban DKI

- detikNews
Selasa, 04 Des 2007 17:44 WIB
Jakarta - Menjelang Idul Adha, pedagang musiman hewan qurban mulai bermunculan. Tengok saja di pinggir-pinggir jalan Jakarta, sejak seminggu lalu, bambu-bambu untuk menambatkan hewan sudah dibangun.

Dan mulai pekan ini, hewan-hewan qurban mulai tampak dijajakan para pedagang.

Di wilayah 'gardu', Jalan Raya Depok-Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, misalnya, tampak ratusan sapi dan kambing berbodi montok. Hewan-hewan ini kebanyakan didatangkan dari Pacitan, Jawa Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedikitnya ada 10 pedagang yang berkumpul di kawasan ini. Salah satunya Idris (40), pemilik UD Rizqal Qurban. Dia mengaku sudah 10 tahun berdagang di tanah milik Inkopad dengan sistem sewa. Usahanya ini merupakan usaha turun temurun.

Saat ditemui detikcom, Selasa (4/12/2007), Idris mengaku menjual hewan dengan kualitas prima untuk memuaskan pelanggannya. Tidak aneh jika mantan Kapolri Jenderal (Purn) Pol Da'i Bactiar menjadi pelanggan tetapnya.

Setiap tahunnya dia mendatangkan sekitar 140 ekor sapi dan 200 ekor kambing. Berat sapi yang dijualnya antara 250 kilogram-1.000 kilogram dengan kisaran harga Rp 5 juta-Rp 23 juta. Sedangkan kambing dijual dengan kisaran harga Rp 600 ribu-Rp 3 juta.

Meski mendatangkan ratusan ekor hewan qurban, kandang-kandang dadakan yang dibangun Indris belum banyak diramaikan hewan qurban dagangannya.

"Saat ini baru sekitar 70 ekor sapi yang tiba. Jenis sapinya macam-macam, ada sapi limousine, ada sapi simental. Tahun lalu sapi seberat 900 kilogram saya jual Rp 23 juta," ujarnya.

Idris mengaku tidak bisa mendatangkan hewan-hewan yang dijualnya sekaligus dari daerah asalnya, tapi secara bertahap. Sekali perjalanan dari Pacitan dengan waktu 2 hari 1 malam, dia hanya bisa mengangkut 17 ekor sapi.

Meski berhasil menjual hewan qurbannya dengan harga tinggi, Idris mengaku pengeluarannya juga cukup tinggi, sehingga keuntungan yang diperolehnya harus dipotong biaya operasional yang tidak sedikit.

Dijelaskannya, untuk satu kali perjalanan mendatangkan sapi dan kambing, dia harus mengeluarkan biaya Rp 4,5 juta.

Belum lagi biaya untuk pakan hewan-hewan itu yang mencapai ratusan ribu setiap harinya. Untuk pakan satu ekor sapi, kata dia, setiap hari dia mengeluarkan Rp 10.000 untuk membeli rumput, ampas tahu dan dedak. Selain itu, dia juga harus mengeluarkan uang untuk biaya sertifikat.

"Sebab konsumen selalu minta sertifikat bebas penyakit untuk hewan-hewan ini," ujar Idris.

Idris juga menyewa seorang dokter hewan untuk melihat kebugaran dan kesehatan hewannya. Setiap 2 hari sekali, hewan-hewan itu akan diperiksa. Jika ada sapi yang stres, dokter hewan akan memberinya obat.

Untuk tahun lalu, biaya operasional yang dikeluarkan Idris mencapai Rp 100 juta untuk 20 hari masa berdagang. Biaya itu termasuk menggaji 15 karyawannya.

Soal banyaknya pedagang yang berjualan di kawasan itu, Idris mengaku tidak khawatir timbul persaingan. Karena dari kebiasaan, kebanyakan konsumen justru berdatangan karena banyaknya pedagang. "Selain itu harga juga bersaing karena yang dipilih konsumen hewan yang berkualitas," ujarnya.

Pembeli, kata dia, biasanya baru ramai pada H-7. Setelah membeli, mereka biasanya tidak langsung membawa hewan tersebut. "Biasanya dititipkan ke kita, setelah mendekati harinya baru kita antar ke rumah pembeli," ujar Idris.

Selain di Jalan Srengseng Sawah, Jakarta, di pinggiran-pinggiran Jakarta, pedagang hewan qurban juga mulai marak. Tidak hanya membuat kandang dadakan, tidak sedikit pedagang yang memanfaatkan kios-kios permanen untuk menampung hewan-hewan itu.

Di Pasar Cisalak, Cimanggis, Depok, misalnya. Seorang pedagang rela menggusur kios dealer motor berukuran 3x4 menjadi kandang sapi. (umi/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads