Petugas gabungan terus bersiaga selama 24 jam untuk memantau perkembangan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Patroli dilakukan hingga malam untuk mengantisipasi munculnya titik api baru sekaligus mencegah bara yang masih tersisa kembali membesar dan merembet ke kawasan lain.
Kewaspadaan petugas ditingkatkan setelah kebakaran di kawasan Bromo kembali membesar pada Sabtu malam (8/8/2026). Kondisi itu menjadi bahan evaluasi agar kesiapsiagaan dan pemantauan pada malam hari semakin diperkuat sehingga api tidak kembali meluas.
Hingga hari ini, seluruh pintu masuk menuju kawasan Bromo masih ditutup total untuk aktivitas pengunjung.
Penutupan dilakukan untuk menjamin keselamatan wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi petugas dalam melakukan penanganan dan pemantauan kebakaran.
Petugas memastikan patroli dan pemantauan akan terus dilakukan hingga kondisi kawasan Bromo benar-benar dinyatakan aman dan seluruh potensi titik api dapat dikendalikan.
Pemadaman Dilakukan Maksimal
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan hingga Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dia berharap proses pemadaman karhutla di Bromo bisa segera selesai.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi Jawa Timur kemudian dengan Pangdam dengan Kapolda, kemudian dengan Menhut beserta dengan seluruh jajaran kepala Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk terus melakukan upaya sekeras-kerasnya untuk sesegera mungkin melakukan proses pemadaman supaya tidak terus meluas," ujarnya.
Prasetyo juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Dia mengimbau untuk menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan kebakaran.
"Sambil juga tentunya kita mengimbau kepada seluruh masyarakat bahwa memang ini kondisi cuaca yang sangat kering sehingga rentan terjadinya percikan-percikan api," ujarnya.
"Sehingga kami mohon dengan sangat kepada seluruh masyarakat untuk kita mawas diri ya, menghindari melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebakaran-kebakaran yang tidak terkendali," sambungnya.
Menko Polkam Duga Kebakaran di Gunung Bromo karena Human Error
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menduga kebakaran hutan di Gunung Bromo, terjadi karena human error. Dia menyebutkan ada kemungkinan api berasal dari aktivitas manusia yang kedinginan.
Djamari mengatakan dugaan itu disampaikan berdasarkan kondisi kawasan Bromo yang memiliki suhu dingin. Menurut dia, pengunjung bisa saja menyalakan api untuk menghangatkan diri, namun lupa memadamkannya.
"Bromo ini kan dingin. Kemudian banyak orang di situ datang, mungkin sambil kedinginan-kedinginan dia bakar, gitu ya, atau jangan lupa mungkin memadamkannya," kata Djamari di Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Senin (10/8/2026).
Kemudian, Djamari menyinggung kejadian kebakaran di kawasan Bromo pada tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, aktivitas pengunjung seperti berfoto juga pernah menjadi pemicu kebakaran.
"Seperti tahun yang lalu kan orang hanya berfoto-foto saja kan bisa terbakar," ujarnya.
Saat ditanya apakah kebakaran Bromo disebabkan oleh faktor manusia dan bukan faktor alam, Djamari mengiyakan meski menyebutnya sebagai dugaan.
"Kira-kira begitu, karena human error. Iya, human error," ucapnya.
Di sisi lain, Djamari menyampaikan kebakaran di kawasan Bromo telah berhasil ditangani. Saat ini disebut masih tersisa sekitar satu hingga dua titik api.
Saksikan informasi dan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Selasa (11/8/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.
"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"
(vrs/vrs)