Komisaris Independen PT Siloam International Hospitals Tbk Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengingatkan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, tekanan daya beli masyarakat, serta meningkatnya biaya pelayanan kesehatan, industri rumah sakit menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Di sisi lain, rumah sakit harus menjaga keberlanjutan bisnis agar tetap mampu berinvestasi pada teknologi, sumber daya manusia, serta pengembangan pelayanan kesehatan modern.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, sektor jasa kesehatan nasional masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Pada triwulan I 2026, sektor jasa kesehatan menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga dengan pertumbuhan mencapai 7,6 persen. Kondisi tersebut tercermin pula pada kinerja PT Siloam International Hospitals Tbk yang berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan.
Hingga Semester I 2026, Siloam membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 5,23 triliun atau tumbuh 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. EBITDA meningkat menjadi Rp 1,54 triliun atau naik 17,7 persen, sedangkan laba bersih mencapai Rp 609,45 miliar atau tumbuh 27,9 persen secara tahunan. Kinerja tersebut menunjukkan ketahanan operasional Siloam di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan musiman.
Hal tersebut diungkapkan oleh Bamsoet usai mengikuti Board of Commissioners Meeting PT Siloam International Hospitals Tbk di Gedung Fakultas Kedokteran UPH Lippo Village Karawaci Banten, hari ini. Rapat Komisaris PT Siloqm International Hospitals Tbk itu dipimpin langsung oleh Komisaris Utama Yasonna Laoly. Hadir juga jajaran komisaris antara lain Bambang Soesatyo, Sigit Prasetya, Andy N. Purwohardono dan James Tobias Hall. Dari jajaran direksi hadir Presiden Direktur David Utama, Wakil Presiden Direktur sekaligus CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady, Direktur Atiff Ibrahim Gill, Benny Haryanto Djie, Gabriele Isacco Tironi dan jajaran direksi lainnya.
"Rumah sakit merupakan bagian dari infrastruktur strategis bangsa. Ketika ekonomi melambat, tantangannya bukan sekadar menjaga keuntungan usaha, melainkan memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas, aman, dan terjangkau. Pemerintah bersama pelaku industri kesehatan harus memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan terbaik tanpa terbebani kenaikan biaya yang berlebihan," ujar Bamsoet, Kamis (6/8/2026).
Bamsoet menjelaskan tantangan terbesar rumah sakit saat ini berasal dari kenaikan biaya operasional yang berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Sebagian besar alat kesehatan berteknologi tinggi, obat-obatan tertentu, reagen laboratorium, hingga berbagai perangkat diagnostik masih bergantung pada impor sehingga rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah dan gangguan rantai pasok dunia. Pada saat bersamaan, rumah sakit juga menghadapi kenaikan biaya energi, pemeliharaan peralatan medis, investasi teknologi informasi, serta kebutuhan meningkatkan kesejahteraan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan agar mampu mempertahankan sumber daya manusia berkualitas.
Menurut Bamsoet, daya saing rumah sakit pada masa mendatang tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah fasilitas yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas layanan klinis, inovasi teknologi, dan kepercayaan masyarakat. Hal tersebut telah dibuktikan Siloam melalui berbagai pencapaian internasional sepanjang 2026.
Siloam Hospitals Kebon Jeruk dan Siloam Hospitals Lippo Village menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang meraih Magnet with Distinction, menjadikan Siloam sebagai satu-satunya jaringan rumah sakit di Asia Tenggara yang memiliki lebih dari satu rumah sakit dengan predikat tertinggi dalam standar keunggulan pelayanan keperawatan. Selain itu, Siloam Hospitals Asri berhasil melaksanakan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia menggunakan sistem Da Vinci Xi, memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan layanan bedah robotik dan transplantasi modern.
"Pasien kini semakin kritis dalam memilih rumah sakit. Keputusan berobat dipengaruhi kualitas pelayanan, kecepatan memperoleh dokter, kemudahan pendaftaran digital, transparansi biaya, hingga ulasan di media sosial. Persaingan antar rumah sakit pun semakin ketat sehingga inovasi, kualitas pelayanan, keselamatan pasien, dan keunggulan klinis menjadi faktor utama memperoleh kepercayaan masyarakat," tutur Bamsoet.
Bamsoet menilai solusi menghadapi tantangan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh. Rumah sakit perlu memperkuat efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas pelayanan melalui digitalisasi proses bisnis, penguatan manajemen rantai pasok, pemanfaatan data analitik, serta peningkatan tata kelola keuangan. Perluasan sumber pendapatan juga perlu dilakukan melalui pengembangan layanan preventif, medical check-up, rehabilitasi medis, pusat penyakit kronis, layanan kesehatan korporasi, home care, hingga telemedicine.
Selain itu, investasi berkelanjutan pada kapasitas layanan juga menjadi faktor penting menjaga daya saing. Hingga Semester I 2026, Siloam meningkatkan kapasitas operasional menjadi 4.440 tempat tidur atau naik 4,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tingkat okupansi tetap stabil di kisaran 62,5 persen. Jumlah pasien rawat inap mencapai 156.269 pasien, sementara kunjungan rawat jalan menembus 2,18 juta kunjungan. Capaian tersebut menunjukkan kebutuhan pelayanan kesehatan berkualitas terus meningkat dan harus diimbangi peningkatan kapasitas serta efisiensi operasional rumah sakit.
"Di sisi pemerintah, dukungan regulasi juga sangat penting. Penyesuaian tarif pelayanan, penguatan industri alat kesehatan dalam negeri, insentif investasi teknologi kesehatan, percepatan inovasi digital, serta peningkatan kolaborasi antara rumah sakit, BPJS Kesehatan, perusahaan asuransi, industri farmasi, dan perguruan tinggi akan memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional menghadapi dinamika ekonomi dunia," urai Bamsoet.
Dosen Pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan dan Universitas Jayabaya ini juga mengapresiasi berbagai pengakuan internasional yang diterima Siloam pada tahun 2026. Antara lain empat penghargaan Healthcare Asia Awards 2026, yaitu Hospital Group of the Year-Indonesia, Service Delivery Innovation of the Year-Indonesia, Specialty Hospital of the Year (Cardiology)-Indonesia, serta Medical Tourism Hospital of the Year-Indonesia. Berbagai capaian tersebut semakin mempertegas posisi Siloam sebagai salah satu pemimpin transformasi layanan kesehatan nasional yang mampu bersaing di tingkat global.
"Ketahanan kesehatan harus dibangun melalui penguatan industri farmasi nasional, pengembangan teknologi kesehatan, peningkatan kualitas SDM medis, serta transformasi digital rumah sakit. Semakin mandiri sistem kesehatan kita, semakin kuat pula ketahanan bangsa menghadapi berbagai krisis dunia. Kinerja positif Siloam pada Semester I 2026 menunjukkan bahwa investasi pada inovasi, tata kelola yang baik, dan keunggulan klinis merupakan strategi yang tepat untuk menjaga keberlanjutan industri kesehatan nasional sekaligus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat," tutup Bamsoet.
Tonton juga video "Bamsoet Pimpin Paripurna Akhir Masa Jabatan MPR"
(akn/ega)