Polisi juga menilai banyak pengakuan yang dituturkan Syamsiah tidak masuk akal. Misalnya korban mengaku diserempet sebelum akhirnya dimasukkan oleh para pelaku ke dalam mobil yang digunakan untuk menculik.
"Orang terserempet mobil pasti menjadi pusat perhatian di sana. Tempat kejadian perkara (TKP) pasti ramai," kata Kapolres Sukabumi, AKBP Guntor Gaffar di kantornya, Kamis (29/11/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau benar pelaku benar-benar penculik pasti dikejar. Masak ini dibiarkan lari," ujar Guntor.
Kejanggalan selanjutnya, pengakuan Syamsiah selalu berubah-ubah. Salah satunya mengenai jenis kendaraan yang digunakan para pelaku. Awalnya Syamsiah mengatakan pelaku menggunakan mobil Kijang. Namun kemudian korban mengatakan pelaku menggunakan Toyota Hardtop, dan terakhir Suzuki APV.
Polisi juga mendalami pengakuan Syamsiah bahwa selain dirinya juga ada sejumlah siswa SMP dan SD yang menjadi korban. Hasilnya, seluruh SMP dan SD di Kecamatan Warungkiara, Sukabumi, tidak ada yang merasa kehilangan murid.
"Kita akan memeriksa guru yang sebelumnya membenarkan peristiwa penculikan itu. Begitu pula dengan kakak korban, yang mengantar korban pada hari kejadian," terang Guntor.
Kejanggalan juga terdapat saat korban menelepon orang tuanya lewat wartel. Dalam pembicaraan itu, korban mendesak orang tuanya memberikan alamat saudaranya yang ada di Bogor.
"Jarak wartel dan rumah saudaranya juga disebutkan berbeda-beda. Pertama katanya 200 meter, tapi kemudian dibilang sekitar 1 km," tutur Guntor.
Namun saat ditanya apakah polisi akan menggunakan lie detector (alat uji kebohongan), Guntor menilai hal itu belum perlu. Polisi lebih memilih menerjunkan Polwan dan ustad setempat untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dari korban. (djo/nrl)











































