Mengenang Gajah Indro Kapten Penjaga Konflik Tesso Nilo

Mengenang Gajah Indro Kapten Penjaga Konflik Tesso Nilo

Mei Amelia R - detikNews
Rabu, 01 Jul 2026 07:20 WIB
Kapten Indro, Gajah penjaga konflik di Tesso Nilo mati pada Senin, 29 Juni 2026 dini hari.
Gajah Indro ditemukan mati/Foto: dok. Istimewa
Pelalawan -

Dunia konservasi kembali berduka. Seekor gajah Sumatera di Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan, Riau dilaporkan mati.

Kematian gajah bernama Indro ini mengagetkan para pecinta hewan dan pegiat lingkungan. Pasalnya, kawasan TNTN belum lama ini kehilangan seekor gajah.

Gajah Indro dilaporkan mati pada Senin, 29 Juni 2026 sekitar pukul 03.45 WIB. Gajah berjenis kelamin jantan itu mati di usia 45 tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gajah Indro selama ini telah berjasa besar dalam mendukung Tim Flying Squad TN Tesso Nilo dalam memitigasi konflik satwa dan manusia di sekitar Tesso Nilo.

Kapolda Riau Ikut Berduka

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan turut menyampaikan duka cita atas kematian gajah Indro yang dikenal sebagai 'kapten' penjaga konflik manusia dan satwa di TNTN.

"Kepergian Indro, Gajah Sumatera yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh pecinta alam dan satwa liar. Dedikasinya dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah adalah pengabdian yang tak ternilai," kata Irjen Herry Heryawan melalui akun Instagramnya, dilihat detikcom, Selasa (30/6).

Menurut Kapolda, kematian gajah Indro ini menjadi pengingat. Bahwa menjaga kelestarian alam, termasuk satwa liar dan ekosistem di dalamnya merupakan tanggung jawab bersama.

Oleh karena itu, Green Policing Polda Riau hadir untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup yang menjadi bagian dari bumi Lancang Kuning.

"Selamat jalan, Indro. Jejak pengabdianmu akan selalu menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan di alam memiliki arti dan harus kita jaga bersama," pungkas Irjen Herry.

Penyebab Kematian Indro

Balai Taman Nasional Tesso Nilo mengungkapkan penyebab kematian gajah Indro akibat komplikasi penyakit. Indro mati pada fase musth.

"Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar KSDA Riau dan Balai TN Tesso Nilo akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth," demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo, dikutip detikcom dari akun Instagramnya, Selasa (30/6).

Sebagai informasi, fase musth adalah siklus biologis alami pada gajah jantan dewasa yang ditandai dengan lonjakan testosteron (hingga 10 kali lipat). Pada fase ini gajah menunjukkan perilaku yang lebih agresif, urine menetes dari preputium (ujung alat kelamin), dan keluar minyak dari kelenjar temporal yang terletak di bawah kulit kedua sisi kepala, di antara mata dan lubang telinga.

Fase musth menunjukkan bahwa gajah siap bereproduksi. Artinya, ada harapan baru untuk kelangsungan regenerasi gajah, yang merupakan satwa liar yang dilindungi.

Balai TN Tesso Nilo mengungkap fase musth gajah Indro mulai terpantau pada 25 April 2026. Pada fase ini perilakunya berubah menjadi lebih agresif sejak 1 Mei 2026 yang ditandai dengan keluarnya cairan/sperma pada alat kelamin.

"Tanggal 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah," imbuhnya.

Gajah Indro Lebih Agresif

Gajah Indro mulai terpantau memasuki fase awal musth pada 25 April 2026. Pada fase ini perilakunya berubah menjadi lebih agresif sejak 1 Mei 2026 yang ditandai dengan keluarnya cairan/sperma pada alat kelamin.

Pada tanggal 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah.

Memasuki awal Juni, di lokasi ikatan pengamanan, gajah Indro sudah tidak dapat didekati, tidak merespons perintah dari mahout (pawang), serta mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas. Untuk menjaga kondisi fisiknya, tim flying squad menyuplai pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, dan rumput gajahan, serta memastikan ketersediaan air minum berkala setiap pagi dan sore dari jarak aman.

Selanjutnya, tanggal 5 Juni 2026, tim juga mulai memandikan Indro menggunakan mesin pompa air untuk menjaga kebersihan dan stabilitas suhu tubuhnya.

Gajah Indro Dinyatakan Mati

Mengingat fase musth yang berkepanjangan, tim medis BTNTN berkoordinasi dengan BBKSDA Riau melakukan tindakan pembiusan (sedasi) untuk memasang rantai tambahan sebagai upaya pengamanan. Pasca-prosedur, tim medis memberikan anti-dot (penawar bius) hingga gajah Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri tegak yang stabil.

Tanggal 25-26 Juni mulai siang hari pascapembiusan, gajah Indro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout dari tim medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan.

Tim medis menyuntikkan 100 ml Biodin (suplemen energi), melakukan evakuasi kotoran (feses) secara manual, memeriksa suhu tubuh, serta memberikan infus suportif sebanyak 5 botol pada sore hari dan 5 botol pada malam hari, mengingat belum ada perkembangan signifikan.

Pada 28 Juni, Indro sempat memberikan harapan positif setelah mulai mau meminum air dan mencoba menjamah pakan. Untuk mempercepat pemulihan fisik akibat penurunan nafsu makan, tim medis melakukan penginfusan sebanyak 60 botol. Sore harinya, Indro dimandikan, mau minum dan suhu tubuhnya normal, bahkan menjelang kematiannya ia masih bergerak aktif menunjukkan ketertarikannya kepada makanan.

Perubahan kondisi terjadi secara mendadak pada dini hari pukul 03.30 WIB, Senin (29/6). Gajah Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan beserta tim mahout segera melakukan pemeriksaan darurat terhadap fungsi pernapasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) selama beberapa menit. Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan secara resmi dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB.

Lihat Video 'Gajah Mitigasi Konflik Indro Mati di TN Tesso Nilo':

Halaman 2 dari 3
(mea/dwr)


Berita Terkait