Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom) RI Muhammad Qodari merespons acara diskusi yang dihadiri Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Wamentan Sudaryono, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid di Universitas Gadjah Mada (UGM) berujung digeruduk mahasiswa. Qodari menegaskan dialog wajib dikedepankan dalam praktik negara demokrasi.
"Yang namanya demokrasi itu bisa terjadi kalau ada dialog. Kalau tidak ada dialog, hanya tuntutan, kan bukan demokrasi namanya. Itu namanya semua gue, maunya dia saja," kata Qodari, dalam keterangannya, (17/6/2026).
Adapun acara diskusi tersebut digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (15/6) malam. Di tengah diskusi, datang sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk penolakan yang membuat acara diskusi menjadi bubar.
Qodari melihat adanya anomali dari peristiwa tersebut. Sebab, menurutnya, sebagian mahasiswa merestui bahkan diketahui otoritas kampus.
"Jadi sebetulnya kan ada anomali di situ, ada interupsi," ujar Qodari.
Qodari menilai adanya penolakan dari mahasiswa itu bentuk amarah semata. Ia bicara pentingnya dialog yang juga merupakan bagian dari demokrasi.
"Saya kira dialog itu, ya, dijawab dengan dialog yang lain, kan tidak susah. Saya kira itu jawaban yang paling proporsional. Kalau kita bicara mengenai demokrasi dan bicara mengenai dialog," kata Qodari.
(eva/amw)