7 Perusahaan Top Indonesia Berkoalisi Lawan HIV/AIDS
Senin, 12 Nov 2007 22:50 WIB
Jakarta - Permasalahan yang timbul akibat HIV/AIDS ternyata dirasakan oleh dunia bisnis. Laporan Departemen Kesehatan bulan Juni 2007 menyebutkan jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS di Indonesia tercatat sebanyak 9.689 kasus.Dari jumlah tersebut, 82 persen penderita berasal dari kalangan usia produktif. Usia 15-49 tahun yang menjadi motor penggerak dunia bisnis.Berawal dari keprihatinan masalah ini, 7 perusahaan papan atas di Indonesia membentuk koalisi yang dinamakan Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA). Perusahaan itu adalah Sintesa Group, Gajah Tunggal, Sinar Mas Group, PT Freeport Indonesia, BP, Chevron Indo Asia, dan PT Unilever Indonesia Tbk."Selain menjadi masalah dari segi moral, kesehatan masyarakat, dan politis, HIV/AIDS juga menjadi masalah dalam dunia bisnis. Penelitian terakhir memperkirakan di negara-negara berkembang, untuk menangani HIV/AIDS di tempat kerja, rata-rata perusahaan harus mengeluarkan 5,9 persen dari nilai total gaji yang mereka bayarkan," kata Ketua IBCA Shinta Widjaja Kamdani.Hal tersebut disampaikannya dalam deklarasi koalisi pembentukan IBCA di Hotel Grand Hyatt, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (12/11/2007).Dalam deklarasi itu, tiap-tiap perusahaan diwakili oleh para petingginya. Senior Vice President Bussiness Service Chevron AH Batubara, Direktur Gajah Tunggal Catharina Widjaja, Company Spoke Person Freeport Mindo Pangaribuan, Managing Director Sinar Mas Gandi Sulistyanto Soeherman, HA & Corporate Director Unilever Josef Bataona, Executive Vice President HR & Relations BP Nico Kanter, dan Shinta Widjaja Kamdani yang juga menjabat sebagai Direktur Sintesa Group.Tujuan koalisi ini Shinta adalah memberikan awareness atau pemahaman kepada pekerja beserta keluarga dan lingkungannya. Perusahaan punya tanggung jawab sosial untuk memberikan edukasi bagi karyawannya agar terhindar dari HIV/AIDS.Tidak lupa, IBCA juga mendorong terciptanya kebijakan perusahaan yang tepat bagi para pekerja yang terinfeksi HIV/AIDS. "Serta untuk menerapkan kebijakan perusahaan yang mencegah diskriminasi terhadap pekerja yang terinfeksi HIV," terangnya.Shinta mengatakan 7 perusahaan yang tergabung dalam IBCA adalah awal. Dia pun mengajak agar perusahaan lain ikut bergabung dalam IBCA."IBCA akan menawarkan program yang telah diterapkan secara regional dan memprakarsai dibentuknya jejaring antar sektor bisnis, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan,"pungkasnya.
(gah/bal)











































