Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat meluncurkan program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda atau Kelana. Program ini bertujuan untuk mendorong generasi muda terlibat langsung dalam aksi penyelamatan bumi, khususnya pelestarian ekosistem mangrove.
Peluncuran tersebut dibarengi dengan pemutaran film dokumenter berjudul 'Menjaga Akar Negeri: Mangrove Indonesia untuk Dunia' di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026). Dalam paparannya, Jumhur menyebut bahwa isu lingkungan adalah satu-satunya tekad yang mampu menyatukan berbagai latar belakang generasi, suku, hingga agama.
"Saya rasa tidak ada satu tekad yang bisa mempersatukan lintas generasi, lintas agama, lintas suku, kecuali tekad untuk sama-sama menyelamatkan bumi," kata Jumhur.
Jumhur menjelaskan bahwa pemilihan tema menjaga akar negeri dalam dokumenter tersebut bukan tanpa alasan. Mangrove, kata dia, dianggap sebagai simbol ketangguhan Indonesia yang memiliki peran vital dalam menjaga garis pantai dari abrasi serta menyediakan perlindungan bagi kehidupan.
"Mangrove bukan sekadar bagian dari tanaman, ia adalah struktur yang unik, ia mencengkeram lumpur di tengah pasang surut, ia menjaga garis pantai dari abrasi, dan ia menyediakan perlindungan bagi kehidupan di bawahnya," jelas Jumhur.
"Indonesia memiliki 3,45 juta hektar mangrove yang tersebar di 37 provinsi, atau mencakup 23% mangrove dunia. Angka ini adalah sebuah kehormatan, namun di sisi lain menjadi beban tanggung jawab moral kita kepada dunia," lanjutnya.
Jumhur menilai bahwa saat ini, fondasi hukum dan instrumen teknis untuk perlindungan ekosistem pesisir ini telah diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Selain itu, melalui Keputusan Menteri LH Nomor 3438 Tahun 2025, pemerintah telah menetapkan Peta Mangrove Nasional sebagai rujukan data tunggal. Kementerian LH juga tengah menuntaskan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional.
(ond/rfs)