Perubahan Iklim Ancam Petani
Rabu, 31 Okt 2007 23:38 WIB
Jakarta - Setelah kebijakan revolusi hijau, aturan musim yang pernah menjadi kearifan lokal petani Indonesia kini nyaris hilang. Isu global warming seolah tak tersentuh.Padahal, cepat atau lambat pertanian akan terkena dampak perubahan iklim.Sayangnya dampak itu tidak diindahkan oleh para pengambil kebijakan."Sasaran utama adaptasi terhadap perubahan iklim memang masih diutamakan pada daerah pesisir. Sementara wilayah pertanian masuk kategori selanjutnya," papar Ketua Delegasi Tim Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim Dunia ke-13, Emil Salim di PuttPutt Golf, Senayan, Jakarta, Rabu (31/10/2007).Bahasan itu, lanjut Emil, akan diusulkan pada pertemuan para ilmuwan dunia. "Mereka akan mengeluarkan statement terakhir pada November nanti," imbuhnya.Sementara itu, wakil World Wildlife Fund (WWF) Fitrian Ardiansyah menjelaskan, perubahan iklim diperkirakan akan menurukan produksi pertanian 25 persen dari yang ada sekarang. "Kalau suhu benar akan naik hingga 2,5 derajat celcius pada beberapa tahun ke depan, maka diperkirakan sebanyak 9 hingga 25 persen produksi padi akan menurun," urai Fitrian.Persoalan ini, lanjut dia, bukan hal sepele. Sebab, ketahanan pangan Indonesia tengah dipertaruhkan. "Sekarang saja, kita telah harus mengimpor beras karena semakin menurunnya produksi beras nasional," jelasnya.
(fiq/mly)











































