Ditolak Pasar Modern, Recehan Rupiah Makin Tak Dihargai

Ditolak Pasar Modern, Recehan Rupiah Makin Tak Dihargai

- detikNews
Jumat, 26 Okt 2007 10:37 WIB
Ditolak Pasar Modern, Recehan Rupiah Makin Tak Dihargai
Jakarta - Berapa banyak orang Indonesia yang kini menyimpan uang pecahan Rp 25 atau Rp 50? Mungkin tidak banyak lagi. Kalau pun punya, kebanyakan uang-uang recehan itu hanya menjadi simpanan di laci mereka. Sebab tidak banyak warung, minimarket, supermarket atau hipermarket yang kini bersedia menerima recehan. Pemilik warung atau kasir tak segan-segan menolak. Alasannya klasik, recehan itu, kata mereka, sudah tidak laku lagi. Bahkan tidak sedikit yang beralasan kebijakan manajemen mereka tidak menerima pecahan di bawah Rp 500. Karena alasan kebijakan manajemen itu, tidak sedikit pula minimarket atau supermarket yang menyulap uang recehan menjadi permen. Bayangkan, kembalian Rp Rp 25-Rp 100 rupiah disulap menjadi sebuah permen. Berapa keuntungan yang diraup pasar-pasar modern ini? Konsumen hanya bisa pasrah. Pengalaman seperti ini nyaris dialami seluruh konsumen yang pernah belanja di Indomaret, Alfa Mart, dan pasar-pasar modern lainnya.detikcom menerima banyak keluhan konsumen atas sikap manajemen pasar-pasar modern itu. Bukan nilai uangnya yang mereka persoalkan, tapi sikap manajemen pasar modern itu yang seolah-olah tidak menghargai lagi recehan rupiah.Lena (33), misalnya. Karyawati yang kos di daerah Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini, Jumat (26/10/2007) mengaku tidak habis pikir dengan sikap kasir di sebuah swalayan di kawasan itu.Suatu kali dia membeli keperluan sehari-harinya di swalayan tersebut. Saat itu dia mendapat kembalian Rp 350 dalam bentuk Rp 50.Beberapa hari kemudian, saat dia membelanjakan kembali recehannya untuk membayar belanjaannya, si kasir menolak uang tersebut. Alasannya, kebijakan manajemen swalayan tidak menerima pembayaran dengan uang recehan. Namun untuk kembalian, uang recehan tetap bisa dipergunakan."Nggak masuk akal aja. Dia kasih kita kembalian dalam bentuk recehan. Dan, sewaktu kita belanja lagi dan pakai recehan itu, dia tidak terima," keluh Lena.Keluhan serupa juga disampaikan Ara (36). Warga Depok ini mengeluhkan sikap kasir Alfa Mart yang seenaknya membulatkan nilai belanjaan. Saat itu belanjaan Ara mencapai Rp 34.250. Namun sang karir dengan enaknya menyebutkan total nilai belanjaannya mencapai Rp 34.300."Persoalan yang Rp 50 diganti permen, itu persoalan lain. Di Alfa kan memang begitu, kembalian Rp 50 atau Rp 100 diganti permen. Tapi apa salahnya sih si kasir bilang Rp 34.250 bukan Rp 34.300, baru setelah itu dia bilang nggak ada receh dan diganti permen," keluh Ara.Ara mengaku sempat meluruskan omongan si kasir. "Saya bilang, bukan Rp 34.300 tapi Rp 34.250. Kasirnya agak kikuk, terus dia bilang kebijakan manajemennya memang begitu. Membulatkan nilai kembalian, misalnya Rp 250 atau Rp 275 menjadi Rp 300 dan yang Rp 225 baru dibulatkan ke Rp 200," beber Ara. Ley, warga Kalibata, Jakarta Selatan, dalam e-mail untuk surat pembaca detikcom juga mengeluhkan hal serupa. Setahunya, uang pecahan seperti Rp 25 masih berlaku di Indonesia. Namun dia seringkali mendengar keluhan pemilik warung, kasir supermarket atau restoran beken yang tidak dapat menyediakan uang kembalian dengan pecahan Rp 50 dan Rp 25 kepada pelanggan. Kejadian ini sering dialaminya saat berbelanja di Ramayana, Indomaret, atau restoran A&W. Parahnya, kadang mereka juga tidak menyediakan uang pecahan Rp 100. "Dengan mudahnya mereka menggantikan uang pecahan itu dengan permen seperti yang saya alami kemarin sore ketika membeli sabun di sebuah supermarket di lingkungan Apartemen Paladian, Kelapa Gading," tutur Ley. Ley saat itu membeli sabun seharga Rp 1.600 dan membayarnya dengan uang Rp 5.000. Kembalian yang diterima Ley seharusnya Rp 3.400. Namun kasir mengaku tidak memiliki uang pecahan Rp 100."Akhirnya kasir memberikan saya kembalian uang Rp 3.000 dan permen sebagai ganti pecahan Rp 400. Tapi karena saya menolak akhirnya kasir memberi saya total kembalian uang Rp 3.500," cetus Ley.Sikap manajemen supermarket atau restoran-restoran besar ini membuat Ley prihatin."Kalau memang sulit menyediakan uang pecahan kecil kenapa menjual produk yang harganya menggunakan pecahan kecil seperti Rp 1.750, Rp 6.250, atau Rp 11.790? Ini bukan hanya masalah besar kecil nilai uang tersebut, tetapi juga penghargaan kita sebagai bangsa Indonesia terhadap mata uang kita sendiri," ujar Ley.Pembaca lainnya, Andreas L Kartiko, juga punya keluhan senada. Dia mengaku sering berbelanja ke Indomaret dekat rumahnya di Kebayoran Lama. Tapi saya melihat tidak ada etikad baik dari pengelola swalayan dalam hal pengembalian uang recehan. "Kalau memang susah untuk kembalian kenapa harga barang dibulatkan saja sehingga kesannya di mata konsumen tidak dirugikan," katanya.Andreas mengaku pernah berbelanja senilai Rp 11.825. Di akemudian membayar dengan Rp 20.000 ribuan, ternyata kembaliannya Rp 8.100."Anda bisa bayangkan sendiri ini baru satu customer gimana kalau 100 orang berbelanja dengan perlakuan yang sama. Memang nilainya nggak ada artinya untuk orang customer tapi nilai kumulatifnya untuk 100 orang lumayan juga," kata dia.Di surat pembaca detikcom, kejadian seperti yang dialami Ley dan Andreas cukup melimpah. Bahkan ada kasir di halte busway yang menolak Rp 50 dengan alasan itu merupakan 'kebijakan manajemen'.Kapan pecahan rupiah dihargai di negeri sendiri? (umi/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads