Porter Panen Rezeki di Gambir
Minggu, 21 Okt 2007 15:45 WIB
Jakarta - Musim mudik selalu menjadi berkah tersendiri bagi para kuli panggul alias porter di Stasiun Gambir. Bermodal otot, mereka memanen rezeki dari para pemudik yang kerepotan dengan beban bawaannya.Anwar (42), misalnya, ayah 3 anak asal Cirebon, Jawa Barat ini bisa menangguk penghasilan yang berlipat ganda dari hari biasa. Selama 1 shift bekerja, dia bisa mendapatkan Rp 50 ribu."Apalagi hari ini terakhir libur Lebaran, besok anak sekolah mulai masuk. Jadi sekarang ini ramai-ramainya," kata Anwar saat ditemui detikcom di Stasiun Gambir, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta, Minggu (21/10/2007).Pada hari biasa, rata-rata uang yang bisa dibawa pulang sekitar Rp 20 ribu saja. Artinya, hanya sekitar 4 orang saja yang menggunakan jasanya dalam 1 shift, yaitu dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB keesokan harinya."Kita bawain barangnya sampai kereta, atau sampai keluar, biasanya orang ngasih Rp 5.000 (sekali angkut). Kalau lagi baik, ada yang ngasih Rp 10 ribu," tutur pria berkumis itu.Tentu saja, dia harus bersaing dengan porter lainnya. Anwar hanyalah satu dari 250 porter yang mengadu nasib di Stasiun Gambir. Lahan rezeki mereka dibagi dalam 2 shift."Masing-masing shift diisi 125 orang," jelas pria yang telah menjadi porter sejak tahun 1980-an itu.Rekannya, Kusnadi (45) yang tinggal di Depok merasakan pula berkah musim mudik di Gambir. Penghasilannya jadi terdongkrak hingga dua kali lipat."Kalau hari biasa mah buat makan saja sering nggak cukup. Kadang satu shift cuma bisa bawa Rp 15 ribu saja," keluh pria yang juga memiliki tiga anak itu.Meski demikian, Suhadi (52) tetap betah menjalani profesi ini selama 35 tahun. "Dari saya perjaka, sampai sekarang punya cucu," ujar pria beruban itu sembari terkekeh.Sehari-harinya, pria yang mengenakan seragam warna biru kelabu dan bernomor punggung 05 ini berangkat pagi-pagi dari rumahnya di Depok. Dengan KRL ekonomi dia menempuh rute Depok-Gondangdia, dilanjutkan berjalan ke Gambir. Kereta yang 'syukur bisa nyangkut kaki' pada jam sibuk itu, memang tidak menurunkan penumpang di Stasiun Gambir."Alhamdulillah, kemarin saya bisa bawa sampai Rp 70 ribu," tutur ayah 7 anak itu dengan mata berbinar.Kereta api yang membawa para pemudik terus berdatangan ke stasiun bernuansa hijau muda itu. Suhadi pun pamit meninggalkan detikcom."Saya cari penumpang dulu ya, Mbak," ujarnya lantas kembali menembus kerumunan manusia di Gambir. Bagi Suhadi, Anwar, dan Kusnadi, semua itu disederhanakan untuk sesuap nasi, bukan segenggam berlian.
(fiq/nvt)











































