60 WNI Kuba Salat Id di Diskotik
Minggu, 14 Okt 2007 03:14 WIB
Havana - Sebagai negara komunis, pemerintah Kuba secara resmi tidak mengakui keberadaan agama. Namun dalam beberapa tahun terakhir negara yang dipimpin Fidel Castro itu mengakomodasi praktek beragama.Hal itu ditunjukkan dalam perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah di negara Amerika Latin itu. Pemerintah Kuba mengizinkan minoritas umat Islam yang jumlahnya 200 orang menggelar Solat Id bersama pada Jumat 12 Oktober.Namun tak semua umat Islam di Kuba hadir dalam Salat yang dipimpin imam masjid yang berasal dari Palestina. Hanya sekitar 80 jamaah yang tampak, yang 60 orang diantaranya merupakan WNI.Para WNI di Kuba terdiri dari eks mahasiswa Indonesia (Mahid) yang mengambil tugas belajar di Rusia pada tahun 1960-an, para atlet yang sedang berlatih di Kuba, mahasiswa yang mengambil program olah raga, dan keluarga besar KBRI Havana.Uniknya, Salat Id kali ini dilakukan di sebuah bangsal terbuka di pinggir pantai milik Nautico Club. Bangunan ini merupakan tempat perkumpulan warga Kuba yang pada malam harinya berfungsi sebagai diskotik yang menggelar musik salsa.Demikian siaran pers fungsi Pensosbud KBRI Havana M. Siradj Parwito dalam email yang diterima detikcom, Sabtu (13/10/2007).Warga Indonesia kemudian melanjutkan dengan acara halal-bihalal di wisma KBRI Havana. Sekadar catatan, selain umat Islam, pemerintahan Kuba yang kini dijalankan oleh adik Fidel Castro, Raul castro tidak seketat beberapa tahun lalu menghalangi pelaksanaan praktek beragama.Warga Katolik Kuba kini diperbolehkan menjadi anggota partai komunis. Sementara bagi umat Islam, pemerintah mengizinkan penggunaan Casa de Arab sebagai tempat melaksanakan salat Jumat yang khusus diperuntukkan bagi warga asing.
(bal/bal)











































