Ulama Harus Rendah Hati, Bukan Mustahil Ijtihad Salah
Jumat, 12 Okt 2007 00:22 WIB
Jakarta - Perbedaan penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal terus bergulir di tengah masyarakat. Agar hal ini tidak terulang terus menerus setiap tahun, para ulama diimbau rendah hati untuk tidak selalu merasa benar. Sebab bukan hal yang mustahil jika hasil ijtihad mereka salah.Demikian disampaikan salah satu ulama di Jawa Barat, Athian Ali, melalui SMS kepada detikcom, Jumat malam (11/10/2007). Saat ini Athian sedang berada di Tokyo, Jepang, untuk berceramah."Bagi para ulama yang terlibat dalam soal ini, hendaknya berendah hati seperti Imam 4 Madzhab. Mereka meyakini masing-masingnya benar, tapi tidak fanatik. Mereka masih menyadari kemungkinan salah dalam ijtihadnya," ujar Athian yang juga Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI).Menurutnya, agar perbedaan penentuan awal Ramadan atau 1 Syawal tidak terus terulang, sebaiknya ke depan mereka harus mau duduk bersama."Duduk bersama untuk sepakat untuk sama, bukan sepakat untuk beda. Kalau tidak, maka keadaan seperti ini (perbedaan-red) terus akan terjadi," tandasnya.Sementara untuk umat Islam, lanjut Athian, sebaiknya sabar menghadapi adanya terusperbedaan. "Jangan bingung, yang terikat dalam suatu ormas, ikuti fatwa dari pimpinan ormas bersangkutan. Bagi yang tak terikat seperti itu, pilih salah satu yang paling diyakini, atau ikutlah maklumat dari pemerintah. Allah Maha Pengampun, jangan khawatir," pungkas Athian.
(ern/bal)











































