Melongok Pinggiran Jakarta: Ketenangan Yang Terus Terusik

Melongok Pinggiran Jakarta: Ketenangan Yang Terus Terusik

- detikNews
Jumat, 21 Sep 2007 07:56 WIB
Jakarta - Rorotan 2006 adalah sebuah kelurahan di pinggiran Jakarta Utara yang cukup asri, namun mulai tergerus roda industri. Petak-petak sawah masih membentang hijau dengan puluhan kambing dan kerbau diumbar begitu saja.Ada juga puluhan kandang berpagar bambu reot terlihat kusam berdiri. Di dalamya, ribuan bebek tengah diternak oleh petani setempat. Namun, lokasi kandang bebek yang jauh dari pemukiman warga, bau tak sedap kandang bebek tak sampai mengganggu aroma udara yang dihisap warga. Di pintu masuk kelurahan yang tidak jauh dari gerbang tol Rorotan, terbentang sungai Rorotan yang sudah tidak jernih lagi. Puluhan pabrik yang memunggungi kelurahan dan menghadap Jl Raya Cakung Cilincing, membuang sebagian limbahnya ke sungai itu.Jadilah, kelurahan yang berbatasan dengan Bekasi Jawa Barat mulai kehilangan kesejukannya. Puluhan truk kontainer berlalu lalang tiap hari. Tak hanya berlalu lalang, tapi juga membawa debu dan suara deru yang memekakkan telinga. "Apalagi ketika di sebagian lahan perumahan kami diurug untuk pembangunan pabrik kelapa sawit. Kemarin ( Februari 2007) banjir sampai sepinggang," kata Hajayati (37), warga RT 8/2 Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (20/9/2007).Keresahan Hajayati tidak sendiri. Sedikitnya 4.000 jiwa dari 800 KK di kompleks perumahan yang dekat dengan calon lahan pabrik itu merasakan hal serupa. Pengurugan lahan serapan air itu sangat dirasakan. Selain banjir yang sebelumnya tidak pernah mengisolasi kelurahan mereka, saat pengurugan lahan, debu dan suara bising membuat mereka tidak bisa tidur."Daun-daun di halaman rumah sampai penuh debu. Kami harus rajin menyiram pakai air biar tidak berdebu," seloroh Hajayati.Tak heran warga yang menolak kehadiran calon pabrik kelapa sawit itu meradang. Apalagi bila mengingat limbah yang akan dihasilkan tidak sebanding dengan keuntungan warga secara ekonomi seperti penyerapan tenaga kerja."Banyak limbah nantinya. Kalau pemuda sini dijanjikan akan bisa bekerja, itu bohong. Puluhan pabrik di sini tidak memakai tenaga sini. Tapi pakai tenaga luar. Jadi satpam pun tidak," kata Imam Sumadi (47), sesepuh di kelurahan itu.Tak cukup sumpah serapah. Sedikitnya 400 KK yang sebagian pensiunan PNS itu mengajukan gugatan hukum, menolak kehadiran pabrik itu. 12 Mei 2007, perwakilan mereka mendaftarkan ke PTUN Jakarta dengan alasan menyalahi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Jakarta."Selasa, 25 September besok merupakan sidang ke-16. Sangat panjang, tapi kami cukup bersabar," kata Imam yang sekaligus menjadi kuasa hukum warga.Dan memang, mempertahankan keasrian Jakarta teramat melelahkan. Tidak hanya yang ada di Pondok Indah yang akan tergusur jalur busway, nmun di pinggiran Jakarta utara juga tidak berbeda.Di sisi timur, pengembangan kota Bekasi khususnya wilayah industri semakin menghimpit ketenangan warga pinggiran. Padahal, kata para 'veteran' itu memilih Rorotan karena sudah lelah dengan bisingnya Jakarta."Kami hanya butuh ketenagan. Dan keasrian menjalani hari-hari. Tapi kok ya digempur terus sama kehadiran idustri yang terus menhimpit," kata Hajayati berkeluh kesah. (Ari/asy)


Berita Terkait