Wawancara Patrick Descamps
Indonesia Jangan Meniru Eropa
Senin, 17 Sep 2007 09:09 WIB
Brussel - Indonesia kaya bahan mentah untuk jewelry berkualitas tinggi dan produksi jewelry Indonesia bisa menembus pasaran kelas atas dunia. Syaratnya: jangan meniru.Hal itu dikemukakan Patrick Descamps kepada detikcom di ruang kerjanya di sisi grande salle Wolfers Gallery, Boulevard de Waterloo 1, Brussel, 12/9/2007 lalu. Descamps adalah pemilik Wolfers Gallery yang menjadi host pameran solo Yayasan Mutumanikam Nusantara di jantung Eropa tersebut. Galeri ini berada di kawasan elite dan berderetan dengan la maison du diamant (wisma berlian), yang menjual jewelry dari berlian aneka ragam.Pameran yang ramai dikunjungi kalangan high society Brussel itu dibuka dan dihadiri oleh Ketua Harian Herawatie Wirajuda (istri Menlu Wirajuda) dan Margarida Sousa Uva Barroso (istri presiden Komisi Eropa Jose Manuel Durao Barroso). Semula dijadwalkan hanya dua hari (12-13/9/2007), namun setelah membaca feedback pengunjung, Herawatie dan KBRI Brussel selaku penyelenggara memutuskan memperpanjang pameran hingga 15/9/2007.Pria bermata biru itu mengaku tertarik dengan Indonesia, negeri yang sesungguhnya kaya raw material (bahan mentah) dari perak, emas, intan, mutiara dan batu-batuan mulia lainnya, namun kurang menonjol di dunia gemerlap jewelry dunia.Ia ditemui di sela kesibukannya mendampingi Dubes Nadjib Riphat Kesoema menerima tamu dan memantau jalannya pameran. Setelah dijelaskan bahwa detikcom adalah situs berita online terbesar di Indonesia dengan sindikasi 39 media regional, Descamps dengan ramah mengajak detikcom berbincang di kantornya. Berikut ini nukilan wawancara singkat dengan pengusaha galeri jewelry kelas atas yang menjadi salah satu rekanan keluarga Kerajaan Belgia itu.Mengapa Anda mau menyediakan galeri Anda sebagai tempat pameran solo jewelry Indonesia?Untuk menunjukkan dan mempromosikan level artistik dan disain jewelry kualitas tinggi Indonesia, yang ternyata memenuhi tuntutan dan selera kelas atas Eropa dan dunia.Selain pameran solo ini, apakah Anda mempunyai hubungan kerjasama lain dengan Indonesia?Kami selama ini melalui kontak KBRI Brussel sudah menjalin kerjasama yang baik dengan Indonesia. Di antaranya kami memberi bantuan pelatihan kepada pengrajin di Bali dan Yogyakarta pada April dan Mei yang lalu. Kami memberikan konsultasi dan bantuan teknis kepada mereka. Di Bali ada sekitar 110-an pengrajin yang mengikuti bantuan pelatihan, di Yogyakarta juga jumlahnya sekitar itu.Apa kesan Anda terhadap para pengrajin yang Anda temui?Mereka adalah sumber daya yang handal. Mereka memiliki keterampilan tinggi. Hanya saja mereka tidak cukup mempunyai pengetahuan disain, tidak memiliki modal dan peralatan memadai. Akibatnya seringkali terjadi mereka meniru disain jewelry terkenal dari Eropa.Apa rencana Anda ke depan? Anda mendapat ide tertentu setelah bertemu dengan para pengrajin?Segala keterbatasan pengrajin juga karena umumnya keterampilan mereka diterima secara turun-temurun, lalu tidak ada jaminan kepastian hidup. Ke depan kami merencanakan untuk mendirikan lembaga pendidikan, mengirimkan tenaga pengajar, menyiapkan tenaga pelatih dan mengajari para pengrajin Indonesia dengan teknik-teknik baru. Sebab harus diakui bahwa jewelry Indonesia saat ini masih lemah dalam disain dan kualitas, padahal bahan bakunya luarbiasa. Selain itu disediakan bantuan peralatan buat mereka. Bagaimana selanjutnya hasil produksi mereka? Apakah ada upaya berkelanjutan dalam membantu atau bekerjasama dengan mereka?Kami sudah merencanakan akan membantu mereka dalam bidang disain. Mendisain dan membuat jewelry berkualitas internasional, bukan hanya mengkopi jewelry yang sudah terkenal dari Eropa. Jika terus-menerus memproduksi jewelry kopian, maka tidak akan ada nilai eksklusif dan harganya akan sangat murah. Implikasinya pengrajinpun akan mendapat upah murah, mungkin cuma US$1 atau US$2 per hari, tidak akan ada peningkatan kesejahteraan. Jika ingin berkompetisi, berkompetisilah di bidang art, bukan produksi. Jika orientasinya memproduksi jewelry dengan harga murah, maka Indonesia tidak akan menang bersaing melawan India dan Cina.
(es/es)











































