Arman: Polly Mau Pecah Belah Aparat Hukum
Kamis, 23 Agu 2007 17:27 WIB
Yogyakarta - Mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh gerah namanya disebut-sebut dalam rekaman pembicaraan antara Pollycarpus Budihari Priyanto dan mantan Dirut Garuda Indra Setiawan. Menurutnya, pernyataan Polly dalam rekaman itu hanya untuk memecah belah aparat hukum.Hal itu disampaikan Arman panggilan akrabnya menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri acara di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (23/8/2007)."Saya kira dia mau memecah belah itu. Dia kan puji-puji saya. Dia bilang Petruk (Arman) itu bukan orang kita. Kalau Hendarman itu orang kita dia bilang. Saya kira itu nggak benar," kata Arman.Menurut Arman, dirinya, Presiden SBY, dan Hendarman satu pendirian dalam urusan Munir. Ketiganya ingin menuntaskan kasus ini sampai ke akar-akarnya. "Jadi jangan bermimpi, seakan-akan kita beda pendirian. Yang ini orang kita. Yang itu bukan orang kita. Kita ini orang keadilan. Omongannya Polly itu mimpi saja dan sekaligus memecah belah," tegas dia.Arman juga mengaku tidak pernah didatangi Polly saat masih menjabat sebagai Jaksa Agung. Dia tidak melihat kepentingan Polly mendatangi dirinya."Datang mau apa dia. Dia saya larang mendekati saya. 500 meter sudah tak boleh. Nggak pernah ketemu," kata Arman sambil tertawa.Arman menambahkan, dirinya juga sudah mewanti-wanti Hendarman soal kasus Munir. Menurut Arman, Munir adalah taruhan besar bagi penegakan hukum di Indonesia. "Peristiwa Munir itu merupakan peristiwa besar yang paling memalukan. Seorang tokoh HAM dibunuh di maskapai penerbangan nasional. Mau dibawa ke mana muka kita itu," ungkap Arman.Tidak hanya itu, Arman juga mengatakan sudah memberikan dasar-dasar PK kasus ini sebelum berhenti sebagai Jaksa Agung. "Jadi PK sudah disiapkan waktu itu. Dan ada komitmen dari Hendaraman untuk tetap melaksanakannya," demikian Arman.
(bgs/djo)











































