SDM Kurang, Ditjen Hubud Gandeng TNI AU & Prancis

SDM Kurang, Ditjen Hubud Gandeng TNI AU & Prancis

- detikNews
Senin, 20 Agu 2007 17:28 WIB
Jakarta - SDM di bidang perhubungan udara secara kualitas dan kuantitas masih terbatas. Meski demikian, Ditjen Hubud Dephub membantah praktisi Air Traffic Controller (ATC) tidak dilibatkan dalam penentuan slot dan trayek maskapai di Indonesia.Hal tersebut disampaikan Dirjen Perhubungan Udara Dephub Budhi Muliawan di sela-sela seminar sehari 'Derivival Path of Indonesia's Airline Industry' di Hotel Four Seasons, Kuningan, Jakarta, Senin (20/8/2007)."Ya kita bisa meminta ahli dari yang lain seperti Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Dephub juga punya ahli ATC. Tapi kalau ATC-nya bilang tidak dilibatkan, ya itu biasa," cetus Budhi.Namun dia juga mengakui, ahli di bidang perhubungan udara seperti pilot, teknisi, maupun ATC masih kurang. Untuk itu, Dephub akan bekerja sama dengan TNI AU untuk mencari tenaga penerbang dan teknisi."Kita juga sudah menyurati Dirjen Pehubungan Udara Prancis untuk kerjasama pendidikan, baik pilot maupun tenaga ATC," imbuhnya.Untuk mengatasi padatnya lalu lintas udara, Ditjen Hubud sudah melakukan manajemen arus lalu lintas udara dengan menerapkan pula bandara hub (pengumpul) dan spoke (pengumpan) bagi maskapai. Jadi tidak semua maskapai terkonsentrasi pada jalur-jalur padat seperti Jakarta-Surabaya."Yield (hasil) Jakarta-Surabaya itu US$ 5 sen per kursi per kilometer. Kalau yield untuk rute-rute Indonesia timur lebih dari itu, kenapa harus berdarah-darah di rute Jakarta-Surabaya," beber Budhi.Kebijakan ini nantinya akan dituangkan dalam keputusan menteri. Sedangkan untuk 18 annex peraturan International Civil Association Organization (ICAO), baru sebagian yang dituangkan ke dalam peraturan. Sebagian lagi akan dituangkan dalam keputusan menteri."Ya selain itu ada juga annex baru seperti lingkungan dan itu juga belum diratifikasi," pungkas dia. (nvt/sss)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads