'Soeharto The Life and Legacy' Versi Indonesia Diluncurkan

'Soeharto The Life and Legacy' Versi Indonesia Diluncurkan

- detikNews
Selasa, 14 Agu 2007 23:33 WIB
Jakarta - Buku 'Soeharto: The Life and Legacy of Indonesian Second President' akhirnya diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia. Peluncuran buku yang ditulis oleh anak alm Roeslan Abdulgani, Retnowatie itu dihadiri sejumlah tokoh politik.Tampak hadir mantan Ketua Umum PDI Soerjadi, mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro, mantan Menag Tarmizi Taher, mantan Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja Siswono Yudho Husodo, pengacara OC Kaligis, pengamat pendidikan Arief Rachman, pengamat politik Sukardi Rinakit dan tokoh senior KAHMI Sulastomo.Tampak juga sejumlah akademisi, wakil LSM, dan praktisi ekonomi yang tidak hanya dari kalangan tua, tapi dari sejumlah organisasi pemuda yang memenuhi ruang utama Museum Nasional, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (14/8/2007).Sejatinya, buku ini telah terbit dalam bahasa inggris dan diedarkan ke publik pada pertengahan April 2007 di Singapora. Meski diterjemahkan dalam bahasa Indonesia buku itu tetap memiliki judul yang sama. "Buku ini penuh gejolak. Naik-turun penuh emosional," cetus Sosiolog UI Imam Prasodjo yang didaulat menjadi penelaah buku setebal 376 halaman itu.Imam yang didampingi pengamat politik CSIS J Kristiadi dan moderator Rosiana Silalahi, menjelaskan maksud naik turunnya penulisan diketahui dari berhati-hatinya penulis Retnowatie dalam mengkritik Soeharto. Awalnya memuji, meski ditengah mengkritik. "Tapi ya itu, kalau mengkritik minjam pengkritik lain tapi tidak jelas siapa. Ujung-ujungnya, ia ambil nama bapaknya sendiri Roeslan Abdulgani," kritik Imam yang diiringi senyum simpul hadirin.Mendapati kritik itu, Retnowatie yang diapit J Kristiadi dan Rosiana hanya senyum kecil. Ia terlihat memperbaiki posisi duduknya. "Saya mengimbau untuk mengukur keberhasilan ataupun kegagalan dalam konteks sejarah dengan Indonesia saat itu," kelitnya dalam teks tertulis."Yang baik untuk sekarang belum tentu baik untuk masa silam. Begitu jugasebaliknya," tambah Retnowatie. Lalu, kenapa baru kali ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan menagapa lebih dulu menerbitkan dalam versi bahasa Inggris. "Menunggu waktu yang tepat. Kita ini orang Asia, 90 persen ditulis oleh orang asing, dengan bahasa asing," jawab Retnowatie singkat. (Ari/bal)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait