Kehidupan Kolong Tol
Isu Penggusuran yang Meresahkan
Selasa, 14 Agu 2007 07:51 WIB
Jakarta - Rasanya lengkap sudah penderitaan para penghuni kolong tol di Jakarta. Isu penggusuran besar-besaran sebagai dampak kebakaran rumah-rumah di kolong tol Jembatan Tiga Pluit, Jakarta Utara, yang akan segera dilakukan pemerintah membuat mereka resah.Kini, ribuan warga kolong tol kembali harus berfikir ekstra mencari alternatif tempat berteduh. Tentu yang murah dan bisa menghilangkan panas dan derasnya musim hujan Jakarta."Saya sih nggak apa digusur. Asal penggantinya murah dn tidak jauh-jauh. Ya maksimal Rp 50.000 perbulan. Kalau lebih dari itu, mana saya mampu," ucap Maya (24), ibu rumah tangga beranak satu, warga kolong tol Warakas, Jakarta, saat ditemui detikcom, Senin (13/8/2007).Berbeda dengan Maya, Yanto (45) pedagang bakso keliling yang menjadi korban kebakaran kolong tol Jembatan Tiga masih terlihat bingung. Ia masih belum tahu harus bagaimana untuk kembali membangun rumah gubuknya."Kalau dilarang dibangun lagi, mungkin mencari kontrakan yang murah. Tapi nggak tau juga, saya juga nggak punya duit. Temen-temen lain di sini juga nggak tau kepada kemana," tambah dia.Menurut data dari kantor Walikota Jakarta Utara, jumlah warga kolong tol mencapai 10.000 jiwa dari 3.500 KK. Warga tersebar di sepanjang 11 km jalan tol yang melintang di Jakarta Utara. Konsentrasi utama untuk digusur adalahpemukiman kolong tol seperti di Warakas dan Sungai Bambu, Pademangan Timur, Lodan, Penjagalan, dan Pluit.Memang, hingga kini belum ditentukan kapan penggusuran terhadap warga kolong tol akan dilakukan. Namun, akibat kebakaran kolong tol Jembatan Tiga beberapa hari lalu, bagi pemerintah, pembersihan kolong tol dari hunian warga sudah mutlak dilakukan.
(Ari/asy)











































