Menikmati Panorama Pelabuhan Sunda Kelapa dari Atas Sampan
Sabtu, 11 Agu 2007 08:00 WIB
Jakarta - Letak Pelabuhan Sunda Kelapa tak jauh dari Kota Tua. Jaraknya hanya sekitar 1,5 km. Anda bisa mencapainya dengan naik ojek sepeda, bajaj, atau naik mikrolet M-15. Atau bisa juga dengan berjalan kaki. Sayangnya, jalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa kurang nyaman bagi pejalan kaki.Pelabuhan yang telah berumur delapan abad itu hingga kini masih berfungsi. Setiap harinya puluhan perahu Pinisi melakukan aktivitas di pelabuhan ini. Rata-rata tujuan pelayaran mereka adalah Pulau Kalimantan.Dari Jakarta, kapal-kapal itu mengangkut berbagai bahan bangunan, seperti besi dan semen. Sebaliknya, dari Kalimantan kapal-kapal ini mengangkut kayu.Bentuk kapal ini sangat khas, dengan tiang-tiang layarnya. Saat merapat di pelabuhan kapal-kapal kayu ini akan berderet rapi di sepanjang pelabuhan, memberikan pemandangan yang sangat menarik.Pelabuhan Sunda Kelapa ramai dikunjungi turis. Apalagi pada saat hari libur atau akhir pekan. Melihat aktivitas pelabuhan memang sangat menarik. Para penghobi foto dari berbagai kelompok di Jakarta dan sekitarnya, rutin menjadikan tempat ini sebagai tempat hunting foto.Anda juga bisa menyewa sampan atau perahu kecil yang didayung. Jika sekedar ingin menyebrang ke Kampung Nelayan, Luar Batang yang berada di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa, ongkosnya sekali jalannya hanya Rp 2000. Namun jika ingin berkeliling menyusuri muara dengan sampan, para pemilik sampan biasanya mematok harga Rp 20.000.Jangan lewatkan kesempatan itu. Naik sampan menyusuri muara Sungai Ciliwung sangat menyenangkan. Anda bisa menyaksikan suasana kesibukan di perkampungan nelayan yang pemandangannya sangat kontras dengan gedung-gedung megah di belakangnya.Atau Anda ingin merasakan sendiri rasanya mengayuh sampan layaknya para nelayan? Hal itu juga bisa dilakukan di sini. Tapi tentunya Anda harus berhati-hati karena muara tersebut cukup dalam.Waktu terbaik untuk mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa adalah sore hari. Anda bisa duduk berlama-lama di tembok pelabuhan dan memandangi matahari tengelam di antara tiang-tiang kapal. Sungguh indah.Sejarah Pelabuhan Sunda KelapaSejarah Pelabuhan Sunda Kelapa sebenarnya sudah sangat tua. Pelabuhan yang kini masuk ke dalam wilayah Kotamadya Jakarta Barat ini telah dipakai sejak pada abad ke-12, yaitu pada zaman Kerajaan Pajajaran, yang kala itu menguasai sebagian besar wilayah Priangan.Pada masa itu, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi salah satu sentral perdagangan yang penting di wilayah Asia Tenggara. Kapal-kapal asing yang berasal dari Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna. Barang yang mereka bawa itu lantas ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.Pada tahun 1522, Gubernur Alfonso d'Albuquerque di Malaka mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Pajajaran, guna mendapatkan izin mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Hal ini mendapat sambutan baik dari KerajaanPajajaran.Sikap Kerajaan Pajajaran itu lebih karena alasan politis. Saat itu pamor kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di Tanah Jawa makin berkurang akibat makin dominanya kekuatan Islam yang berpusat di Demak. Raja Pajajaran berharap dengan perjanjian tersebut, Portugis mau membantu Pajajaran untuk memerangi Islam dan Demak.Kesultanan Demak langsung merespon perjanjian persahabatan Pajajaran-Portugal tersebut sebagai suatu ancaman. Panglima perang Demak yang bernama Fatahillah, yang sering dikenal dengan nama Faletehan, ditugaskan untuk mengusir Portugis sekaligus merebut kota ini.Perang Besar antara pasukan Demak yang dibantu Cirebon melawan Portugis segera berkobar. Pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Demak-Cirebon berhasil mengalahkan Portugis dan merebut Sunda Kelapa.Tanggal 22 Juni inilah yang hingga kini selalu dirayakan sebagai hari jadi Kota Jakarta. Sejak saat itu, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta, yang sering diartikan sebagai Kota Kemenangan.
(rdf/nvt)











































