Kampanye 'Waspada Penipuan Berkedok Promo Berhadiah' Digelar
Senin, 30 Jul 2007 07:52 WIB
Jakarta - "Selamat! Anda memenangkan Honda Jazz dalam undian gebyar Unilever. Silakan hubungi bla bla bla..." Sudah pasti Anda pernah menerima SMS seperti itu. Modus lainnya yang dulu marak adalah berupa surat via pos yang meyakinkan, komplet dengan surat pengesahan dari Ditjen Pajak. Meski setiap hari selalu diingatkan bahwa modus-modus seperti itu adalah ulah orang jahat, tapi korban tetap saja berjatuhan. Rata-rata korban menderita kerugian hingga jutaan rupiah. Jelas angka yang tak sedikit.Dulu, penipu mengirimkan pemberitahuan menang undian lewat pos. Lalu lewat SMS. Kini, selain SMS, juga ada komplotan penipu memasukkan kupon palsu ke dalam kemasan berbagai produk di pusat perbelanjaan. Polisi berulang kali kali sukses menggulung bandit menyebalkan ini. Tapi hilang satu tumbuh seribu. Selalu saja generasi baru penipu model seperti ini berkeliaran.Guna mengikis aksi penipuan hingga ke akar-akarnya, Departemen Sosial (Depsos) bermitra dengan Pos Indonesia, Unilever Indonesia, Nestle Indonesia, Frisian Flag Indonesia, Sari Husada, dan BNI serta didukung oleh Missi dan MAKI (Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia) akan mencanangkan kampanye bertajuk "Waspada Penipuan Berkedok Promo Berhadiah", Senin (30/7/2007).Acara ini dimulai pukul 10.00-11.30 WIB bertempat di Lapangan Parkir Belakang Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan.Menurut rencana acara ini akan dihadiri Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah; Yoseph Bataona (Direktur Unilever Indonesia); Syahlan Siregar (Direktur Nestle Indonesia); Hendro Harijogi Poedjono (Direktur Frisian Flag Indonesia);k Hana Suryana (Direktur Utama Pos Indonesia); Jenny Go (Marketing Director Sari Husada) dan Sigit Pramono (Dirut BNI).Para selebriti dan masyarakat umum yang peduli pada maraknya kasus penipuan yang menyedihkan ini juga akan hadir dengan menggelar aksi damai. Salah satu aktivitas kampanye ini yaitu pemasangan sejuta poster di seluruh wilayah Indonesia. Anda memiliki kisah aneka modus komplotan penipu yang layak diketahui publik? Bagilah kepada kami di redaksi@staff.detik.com.
(umi/nrl)











































