Buntut Kisruh PKB, Pengurus Garda Bangsa Mengadu ke LBH

Buntut Kisruh PKB, Pengurus Garda Bangsa Mengadu ke LBH

- detikNews
Kamis, 26 Jul 2007 18:42 WIB
Jakarta - Dua pengurus Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa PKB tak terima mereka dilaporkan DPP PKB ke Mabes Polri. Mereka pun mengadu ke LBH Jakarta.Kedua pengurus Garda Bangsa itu adalah Zaenul Munashikin dan Akhsanul Miran. Mereka dilaporkan Wasekjen DPP PKB Ikhsan Abdullah ke Mabes Polri pada Rabu 25 Juli. Zaenul dan Akhsanul dinilai telah melakukan pencurian dokumen partai dan penghasutan dengan cara memasang iklan di Harian Republika pada 18 Juli 2007."Saya minta bantuan ke LBH terkait pemasangan iklan ucapan selamat harlah PKB ke-9. Iklan itu memuat daftar nama pengurus DPP PKB hingga DPW dan DPC se-Indonesia yang sesuai SK Depkum HAM," ujar Zaenul di Kantor LBH Jakarta, Jl Mendut, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/7/2007)Menurut Zaenul pemasangan iklan itu dimaksudkan sebagai ucapan selamat kepada PKB yang merayakan harlah ke-9. Namun hal ini justru dipermasalahkan oleh DPP PKB. Alasannya, nama-nama yang dimuat tidak sesuai dengan nama-nama pengurus PKB saat ini. Ikhsan pun melaporkan keduanya ke Mabes Polri."Lalu saya dilaporkan ke polisi karena mencuri dokumen. Padahal saya kan pengurus partai juga. Dokumen itu kan bisa diakses semua orang, bukan rahasia," kata Zaenul yang menjabat sebagai Ketua Bidang Penggalangan Opini Publik DKN Garda Bangsa itu.Dia mengaku dirinya sempat dua kali dipanggil oleh Sekjen DPP PKB Yenny Wahid. Pada panggilan pertama, Zaenul mangkir karena surat itu tidak sesuai standar organisasi partai.Sementara itu ketua divisi advokasi LBH Jakarta, Hermawanto, menyatakan pihaknya akan mempelajari pengaduan dan dokumen-dokumen yang diserahkan Zaenul."Secara umum ini merupakan persoalan akuntabilitas publik. Tapi unsur pencurian dokumen atau tidak, itu wewenang penyidik Polri. Kita tidak bisa intervensi. Namun kita akan membantu bila diminta," ujar Hermawanto.Kasus ini disinyalir sebagai buntut dari konflik di tubuh PKB antara Gus Dur dengan kubu Muhaimin Iskandar. (fiq/nrl)


Berita Terkait