Pasar Tradisional Digusur, Pedagang Bersatu Bentuk Federasi

Pasar Tradisional Digusur, Pedagang Bersatu Bentuk Federasi

- detikNews
Jumat, 06 Jul 2007 15:09 WIB
Jakarta - Pasar tradisional dari hari ke hari semakin terpinggirkan. Pasar itu digusur dengan berbagai cara dari dipindah ke tempat yang tidak layak hingga dibakar. Pedagang pasar tradisional pun tak tinggal diam. Mereka bersatu membentuk sebuah federasi.Ratusan pedagang tradisional tampak memadati kawasan Pasar Barito, Jakarta Selatan. Mereka mendeklarasikan Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia."Banyak pasar-pasar tradisional digusur secara perlahan-lahan. Seperti direlokasi di tempat baru yang tidak layak serta dibakar," kata ketua federasi, Sujianto, di sela-sela deklarasi di Pasar Barito, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2007).Kasus-kasus tersebut, lanjut Sujianto, menimpa beberapa pasar di ibukota seperti Pasar Tanah Abang, Pasar Blok M, dan Pasar Cipinang.Modus penggusuran tersebut, lanjutnya, setelah dibakar atau direlokasi, pemerintah melalui PD Pasar Jaya membangun ulang gedung baru. Nantinya, stan-stan di pasar baru tersebut disewakan atau dijual dengan harga selangit. Sujianto mencontohkan harga jual stan di pasar baru Blok M. Harga 1 stan bisa mencapai 400 juta, sehingga dalam waktu 10-20 tahun baru jadi hak milik."Per meter perseginya bisa sampai Rp 10-14 juta. Padahal kemampuan pedagang hanya berkisar Rp 6 jutaan. Kalau harganya segitu, yang bisa beli ya pedagang baru yang bukan dari pasar lama," lanjutnya. Selain mahalnya harga stan sewa baru, seringkali relokasi pasar di tempat yang kurang layak yaitu diapit oleh pasar modern. "Orang jadi males ke pasar tersebut. Akhirnya pembeli berkurang, pedagang jadi bangkrut," protesnya.Tergabung dalam federasi ini, yaitu Asosiasi Pedagang Blok M, Ikatan Pedagang Tanah Abang, Persatuan Pedagang Pasar Sunter, Persatuan Pedagang Pasar Kramat Jati, Koordinator Pedagang Pasar Sunan Giri Rawamangun, serta Kelompok Pedagang Barito.Federasi ini juga didukung oleh Persatuan Pedagang Tradisional Surabaya dan Aceh dan didampingi oleh sejumlah LSM seperti LBH Jakarta, Walhi, ICW dan Kontras. (nwk/nrl)


Berita Terkait