Hardiknas, Sekolah Anak-anak Pedalaman Riau Malah Bubar
Rabu, 02 Mei 2007 11:00 WIB
Pekanbaru - Bila hari ini sejumlah anak sekolah memperingati Hardiknas, lain hal bagi anak-anak suku Talang Mamak yang berada di pedalaman hutan di Riau. Anak-anak itu tidak kenal Hardiknas, sebab sekolah non formal mereka kini sudah bubar. Duh!Sanggar Datai. Kalimat itu tertulis diplang selebar 1 meter warnah hijau. Sanggar ini persisnya terletak di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Sekolah non formal ini letaknya nun jauh di tengah kawasan Taman Nasional Bukit Tingapuluh (TNBT) yang mencakup dua wilayah Riau dan Jambi.Di Dusun yang dapat dijangkau 2 hari 2 malam dengan berjalan kaki dari ruas jalan lintas Sumatra ini, di sanalah terdapat sekitar 60 kepala keluarga suku tradisional Talang Mamak. Mereka ini sebuah komunitas Talang Mamak yang paling jauh dari akses jalan dan segala bentuk akses lainnya.Sekolah non formal yang duluny memiliki murid sekitar 30 orang, dibangun NGO Program Koservasi Harimau Sumatra (FKHS). Tujuannya sangat mulia, mengenalkan tulis dan baca bagi bocah-bocah di tengah kawasan hutan belantara itu."Sekarang sekolah ini sudah tutup. Anak-anak Talang tak lagi bisa belajar untuk mengenal huruf dan angka. Jadi di dusun itu anak-anak bakal tidak pernah mengenal apa yang disebut Hardiknas," kata Asisten Komunikasi Warung Informasi (WARSI), Ahmadi, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (2/5/2007).NGO yang melakukan pendampingian pada penduduk terpencil ini, menyebut, sekolah yang dulunya terdiri dari dua local itu, kini sudah lama ditinggalkan gurunya. Sekolah terbuat dari dinding bambu itu sampai kini masih terpajang gambar SBY dan JK yang warnanya sudah pudar. Halaman sekolah itu kini ditumbuhi ilalang setinggi satu meter."Kami sangat sedih melihat kondisi sekolah itu. Padahal dulunya, anak-anak pedalaman ini antusias untuk belajar. Malah mereka sempat meminta untuk diberi pelajaran bahasa Inggris. Itu dapat dimaklumi, karena di dusun mereka sering kedatangan tamu bule-bule dari penjuru dunia dalam melakukan penelitian soal kekayaan alam di TNBT," terang Ahmadi.Menurut Rahmadi, tutup Sanggar Datai ini, masih erat hubungannya soal tenaga pengajar. Dulunya guru mereka yang disediakan FKHS masih dari kalangan suku Talang Mamak sendiri. Hanya saja, guru itu tidak lagi hidup seperti mereka di tengah hutan taman nasional."Guru yang disediakan FKHS akhirnya memilih untuk mundur. Dia tidak sanggup lagi mengajar di pedalaman. Alasannya, untuk menempuh ke dusun Datai sangat melelahkan. Bayangkan saja, kita mesti berjalan dua hari dua malam," terang Ahmadi.Malah dari catataan detikcom yang pernah melakukan kunjungan bersama WARSI pada tahun 2006 lalu ke dusun tersebut, murid-murid Sanggar Datai, masih banyak yang belum mengenal tulis baca. Tak cuma itu saja, ketika detikcom, menujuk sebuah foto SBY dan JK yang terpajang di dinding sekolah mereka, anak-anak itu menggelengkan kepala. Mereka sama sekali tidak mengenali kedua foto tersebut. Pun ketika diberitahu, bahwa foto tersebut adalah Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, anak-anak itu malah balik bertanya. "Apa itu presiden. Kami tidak kenal presiden. Presiden itu siapa ya bang," kata murid-murid itu dengan lugunya.
(cha/djo)











































