Pamit Suami Beli Es, Parmi Tewas Disambar Kereta Api
Jumat, 27 Apr 2007 14:36 WIB
Surabaya - Nasib Parmi (60) mengais rezeki di Kota Pahlawan berujung tragis. Nyawa perempuan asal Madiun, Jawa Timur ini melayang setelah tubuhnya disambar kereta api di Gubeng Jaya Surabaya, Jumat (27/4/2007). Parmi yang sehari-hari tinggal di rombong bersama suami tercintanya Sareh (77) yang berada di pinggiran rel ini mengalami luka cukup parah. Bagian wajahnya hancur dan dia langsung tewas di tempat setelah terpental 5 meter. Suami korban, Sareh, hanya bisa meratapi kepergian istrinya itu. "Dia hanya pamit tadi mau beli es cao. Kok jadinya seperti ini," kata Sareh yang terpukul dengan tewasnya Parmi. Anak angkat korban, Jarneh (34) yang tinggal di Gubeng Jaya II/2 C syok melihat jenazah korban yang diselimuti sarung oleh warga. Dia langsung menangis histeris. Informasi dari sejumlah saksi mata, seperti biasa Parmi setiap harinya selalu hilir mudik menyeberangi rel untuk bekerja sebagai pembantu di salah satu warung makanan di Jalan Nias yang tak jauh dari rel. "Dia tadi melintas tanpa tengok-tengok. Langsung tubuhnya diseruduk loko yang lewat," kata Bambang Busro (47), pedagang rokok yang mengetahui kejadian itu. Kereta api yang menabrak Parmi adalah lokomotif saja yang berangkat dari Stasiun Gubeng. "Loko yang nabrak sempat berhenti 500 meter dari lokasi kejadian. Warga sempat teriak-teriak agar loko mundur, tapi malah jalan lagi," kata dia kepada detikcom. Menurut Bambang, penglihatan dan pendengaran Parmi memang sedikit terganggu seiring dengan usianya yang semakin renta. "Setiap kali dia menyeberang, dia selalu diingatkan warga. Maklum dia sudah tua, Mas," kata dia.
(gik/asy)











































