Dua Bulan Masuk STPDN, Dua Bulan Disiksa, Duan Pilih Kabur

Dua Bulan Masuk STPDN, Dua Bulan Disiksa, Duan Pilih Kabur

- detikNews
Senin, 23 Apr 2007 14:12 WIB
Solo - Duan Nur Ariwibowo adalah salah seorang praja STPDN (sekarang bernama IPDN) yang memilih lari dari kampus tidak kuat menahan siksa para seniornya. Dia mengalami cacat di jari tangan akibat siksaan itu. Dia juga mengaku lari bersama serang praja asal Kalimantan Timur yang hingga kini dinyatakan hilang.Duan, demikian dia akrab disapa, bercerita, baru dua bulan dia masuk ke kampus STPDN untuk menempuh perkuliahan bagi calon pamong praja tersebut. Namun selama dua bulan itu pula, tak henti-hentinya dia dan teman-teman seangkatannya didera siksa oleh para seniornya.Duan menunjukkan cacat fisik yang hingga kini dideritanya akibat siksaan itu. Ibu jarinya patah dan tidak bisa pulih normal seperti sediakala. "Akibat diinjak-injak para senior dengan sepatu lars. Saat itu hingga kuku jari saya terlepas. Masih ada siksaan lain yang lebih berat lagi," papar Duan di Solo, Senin (23/4/2007).Akhirnya pada bulan Oktober 1992, dia bersama salah seorang temannya merencanakan pelarian. Pukul 22.00 WIB, dia masuk ke gorong-gorong di bawah tower air di dalam kampus yang mengakses keluar kompleks kampus. Dua jam menunggu, teman yang sejak awal telah sepakat, tidak segera muncul.Akhirnya dari pukul 00.00 WIB Duan sendirian merangkaki gorong-gorong dan sampai di sebuah sungai pukul 04.00 WIB. "Dari tempat itu saya ditolong seorang tukang ojek, sembunyi dua hari di rumahnya untuk menghindari pengejaran pihak kampus. Selanjutnya saya lalu pulang ke Solo juga atas biaya darinya," lanjut dia. Semula orangtua Duan kurang mempercayai cerita yang disampaikan anaknya. Namun setelah melihat kondisi Duan, akhirnya orangtua bisa menerima dan bertekad tidak akan mengembalikan Duan ke STPDN. Sekarang Duan sudah berkeluarga dengan satu anak dan bekerja di sebuah bank swasta di Solo.Hilang Hingga KiniTeman yang sejak awal telah sepakat melarikan diri bersama Duan itu adalah Abdul Rahman, praja asal Kabupaten Pasir, Kaltim. Sejak melarikan diri tahun 1992 hingga limabelas tahun berikutnya, Duan mengaku tidak mengetahui apa alasan Rahman mengurungkan niatnya untuk lari.Baru beberapa saat lalu, seiring terkuaknya kasus kematian Cliff Muntu, banyak pengakuan dari keluarga para korban. Salah satunya adalah keluarga Rahman yang mengabarkan bahwa Rahman dinyatakan hilang dari kampus sejak tahun 1992 itu."Saya baru tahu setelah dari pemberitaan bahwa Rahman hilang. Dia teman akrab saya waktu itu dan dengan dialah saya merencanakan pelarian diri. Saya saat itu juga bingung kenapa saat itu Rahman tidak segera datang, padahal sudah sepakat bertemu di gorong-gorong pukul 22.00 WIB," paparnya.Apakah Rahman tertangkap senior lalu digulung? Digulung adalah istilah praja STPDN atau IPDN untuk menghabisi yunior secara massal. Apakah Rahman berhasil lolos dari kampus setelah Duan lalu tidak pulang ke rumah agar tidak dicari pihak kampus? Atas pertanyaan itu Duan tidak berani memastikan. (mbr/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait