Juara L`Oreal e-Strat Challenge 2007
L'Aigle de ITB? Oui. Chapeau!
Jumat, 20 Apr 2007 22:32 WIB
Den Haag-Bandung - Menjadi 3 terbaik dunia dengan mengalahkan tim-tim dari Rusia, AS, Italia, Cina, dan Brazil, tentu sangat istimewa.Hingga tulisan ini dinaikkan, detikcom masih belum kunjung berhasil menghubungi Tim Rajawali ITB di Paris. Mereka masih mengikuti Tour de Paris, tamasya keliling kota Paris. Mungkin masih di kawasan Montmartre. Mungkin pula di Galeries Lafayette, Eiffel, Arc de Triomphe, Louvre, Stade de France atau Sacre-Coeur. Mereka memang layak menikmati kemenangan dan bertamasya ria.Mewawancarai langsung mereka tentu menjadi primeur, seusai keberhasilan cukup spektakuler dalam final kompetisi simulasi bisnis antarmahasiswa sedunia pada L`Oreal e-Strat Challenge 2007. Apalagi mereka berhasil melengkapai gelar Juara III dengan menyabet SPI Prize atas capaian angka share price index (SPI) tertinggi. Chapeau, angkat topi!Seperti apakah trio awak Tim Rajawali ITB dan bagaimana mereka bisa unjuk gigi di Paris, mengalahkan tim dari Tambov State Technical University (Rusia), University of Minnesota-Carlson School of Management (AS), Universita Bocconi Milan (Italia), Shanghai Jiaotong University (Cina); dan Universidade Federal do Rio de Janeiro (Brazil) di final?"Mereka pekerja keras. Kemauan dan kemampuan mereka untuk belajar dan beradaptasi di bidang ekonomi dan bisnis luarbiasa," komentar Prama Imran Chusnun, mantan Tim Paradiso ITB, finalis L`Oreal e-Strat Challenge 2006 kategori MBA, yang cukup mengenal Tim Rajawali. Bersama awak Paradiso lainnya, yakni Yoga Ari Sembada dan Mia Virnalisi, Prama ikut membimbing Tim Rajawali ITB meraih sukses di Paris.Prama, yang dihubungi langsung dari Belanda, mengaku sangat salut dengan trio manuk dadali dari ITB itu, karena menurut dia perjuangan mereka tidak mudah. "Ini prestasi yang sangat besar, karena ini sebenarnya kompetisi untuk mahasiswa ekonomi dan bisnis," imbuh Prama.Seperti diketahui, ketiga awak Tim Rajawali itu berasal dari teknik: Yafis Afi dari Teknik Penerbangan ITB, sedangkan Pandu W. Sastrowardoyo dan Krisna Murti dari Teknik Lingkungan ITB.Ditambahkan bahwa prestasi yang ditorehkan mereka lebih bernilai istimewa, sebab tidak semua engineer bisa berkiprah di bidang ekonomi dan bisnis, apalagi marketing. "Dan yang paling penting adalah mereka bisa keluar dari comfort zone sebagai engineer dan memainkan peranan sebagai manajer untuk presentasi di depan pemimpin bisnis mapan kelas dunia," ujarnya.Menurut Prama, kisah sukses Yafis dkk. ini dimulai melalui jalan berliku pada Mei tahun lalu. Ketika itu Yafis mengungkapkan minatnya untuk mengikuti L`Oreal e-Strat Challenge dengan lebih serius, karena timnya tidak lolos tahun lalu.Waktu itu, lanjut Prama, Yafis bertanya bagaimana caranya supaya bisa sampai ke Paris. Dia mengaku sangat senang untuk menceritakan kepada Yafis, karena dia sangat antusias. Saat itu Yafis belum punya tim, namun demikian dia sudah nekat mendaftar. "Dari situ bisa kelihatan determination-nya Yafis. Mulai dari menggali informasi, mempelajari pengalaman Tim Paradiso dan juga mempelajari tantangan L`Oreal e-Strat Challenge, walaupun dia belum punya tim. Pada waktu bersamaan Yafis juga mengambil kelas konversasi bahasa Inggris untuk persiapan ke Paris!" papar Prama.Setelah Yafis mendapatkan tim, yakni Pandu dan Krisna, semua sudah masuk cruise-control di mana performa Tim Rajawali terus meningkat. Dan sebenarnya, imbuh Prama, dari awal Tim Rajawali bisa dibilang tidak mendapat bimbingan sama sekali. Bimbingan intensif baru dimulai ketika mereka masuk semifinal dan harus menulis business plan.Prama berharap bahwa Tim Rajawali bisa tetap meneruskan perjuangan yang telah dirintis Tim Paradiso dengan membantu memberi semangat untuk tim-tim ITB mendatang, yang akan mengikuti L`Oreal e-Strat Challenge episode berikutnya."Semoga tim-tim ITB, dari kategori S1 maupun S2, bisa meraih sukses yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dalam kompetisi ini," demikian Prama.
(es/es)











































