Juara L`Oreal e-Strat Challenge 2007
Budaya ITB di Balik Sukses Tim Rajawali
Jumat, 20 Apr 2007 18:07 WIB
Den Haag-Bandung - Kesuksesan Tim Rajawali ITB di Paris tidak terlepas dari kultur di almamaternya. Saling asih, asah, asuh dan para dosen kompak menyiapkan trio manuk dadali dari Bandung ini.Hal itu diungkapkan Wawan Dhewanto, dosen pada School of Business and Management (SBM) ITB, dalam perbincangan jarak jauh dengan detikcom menyusul sukses Tim Rajawali asuhannya dalam final kompetisi simulasi bisnis L`Oreal e-Strat Challenge 2007 di Paris (18/4/2007). Tim ini berhasil menyabet gelar Juara III dan meraih SPI Prize pertama. Hebatnya, awak tim ini bukan dari latarbelakang bisnis atau ekonomi, melainkan engineering. Yafis Afi dari Teknik Penerbangan ITB, sedangkan Pandu W. Sastrowardoyo dan Krisna Murti dari Teknik Lingkungan ITB."Para dosen kompak dan telaten membimbing. Mereka adalah Jann Hidajat Tjakraatmadja, Benny S. Gunawan, Melia Femiola, Akbar Adhiutama dan saya sendiri," ujar alumni Technische Universiteit Delft Belanda ini.Selain berupa bimbingan, ITB dan SBM ITB juga memberi dukungan dari sisi finansial, bukan hanya kepada Tim Rajawali, tetapi juga 11 tim S1 lainnya dan 7 tim MBA ITB yang ikut kompetisi L`Oreal e-Strat Challenge. Untuk pembiayaan Tim Rajawali ke final di Paris dana juga mengalir dari Bagian Kemahasiswaan ITB. "Tim juga mendapat perpanjangan akomodasi dari KBRI Paris," katanya.Di samping itu, lanjut Wawan, para senior dari Tim Paradiso (tim MBA ITB finalis L`Oreal e-Strat Challenge 2006, red) yakni Prama Imran Chusnun, Yoga Ari Sembada, dan Mia Virnalisi juga ikut tekun menuntun. "Namun di atas semua itu, sukses ini adalah sepenuhnya hasil kerja keras Tim Rajawali sendiri. Mereka layak mendapat gelar itu," tegas Wawan.Diceritakan, bahwa sejak diumumkan masuk final sebulan lalu, Tim Rajawali selalu berkumpul di SBM ITB setiap Selasa malam untuk latihan lengkap dengan presentasi. Para dosen lalu memberikan opini dan masukan, juga dari Tim Paradiso, disusul makan malam bersama, lalu latihan lagi. Selain latihan tiap Selasa malam (jadwalnya disesuaikan setelah Benny S. Gunawan dan Wawan selesai mengajar), diadakan juga presentasi terbuka untuk umum di auditorium SBM ITB dengan harapan supaya mereka tidak grogi menghadapi banyak penonton.Setiap pekan mereka mengalami peningkatan. Saat pekan pertama latihan, presentasinya masih jauh dari sempurna. Setelah diberi masukan, mereka memperbaikinya dan pekan berikutnya sudah mengalami peningkatan. "Mereka pekerja keras dan betul-betul tahan banting. Bahkan pada Sabtu menjelang berangkat ke Paris, mereka masih sempat latihan hingga jam 24.00 di SBM ITB. Waktu itu si Yafis sekaligus meladeni wawancara dengan Anda," ungkap Wawan berkilas balik saat tim dihubungi detikcom dari Belanda. Lihat juga Begadang, Keringat dan Airmata.Kerja keras dan latihan spartan itu membuahkan hasil. Menurut Wawan, pada tahap penyisihan Tim Rajawali melewati dengan cukup mudah, karena mereka dari teknik sehingga kemampuan analisis dan matematikanya sangat kuat. Pada babak semifinal saat harus menulis business plan, mereka agak kesulitan. Tapi akhirnya mereka bisa melewatinya. Pada babak final di Paris, kesulitan berikutnya ditemui lagi, yakni presentasi business plan harus disampaikan dalam bahasa Inggris. Bagaimanapun mereka bukan native speaker. Untunglah mereka mahir dalam mengatur strategi. Saat babak penyisihan, Yafis yang memimpin, karena kemampuan matematikanya kuat. Di semifinal giliran Krisna yang maju memimpin, sebab dia pandai menulis. Dia adalah wartawan website ITB. Sementara di final giliran Pandu yang memimpin, karena dia mahir presentasi dalam bahasa Inggris."Sebuah perjalanan yang melelahkan. Mereka mati-matian selama 6 bulan sejak pendaftaran pada Oktober 2006. Dibutuhkan stamina yang kuat dan mereka benar-benar bisa merealisasikannya," simpul Wawan bangga mengenai etos mahasiswa asuhannya.
(es/es)











































