Industri Penerbangan Tak Terpengaruh Travel Warning AS

Industri Penerbangan Tak Terpengaruh Travel Warning AS

- detikNews
Rabu, 18 Apr 2007 07:42 WIB
Jakarta - Travel warning Kedubes Amerika Serikat rupanya telah diterima Dephub sejak jauh-jauh hari. Peringatan agar warga AS tidak bepergian dari atau ke Indonesia menggunakan maskapai penerbangan Indonesia itu telah disampaikan kepada Departemen Perhubungan (Dephub) sejak 7 April 2007. Peringatan itu muncul setelah adanya pertemuan antara The United States Federal Aviation Administration (FAA) dan Kedubes AS."Saya menemani Menhub, hadir Dubes AS dan FAA datang menemui Pak Menteri, ada semacam travel warning, itu 10 hari lalu," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara (Dephub), Budhi Muliawan Suyitno, saat berbincang dengan detikcom Selasa (17/4/2007).Budhi mengaku dirinya memang belum melihat secara langsung peringatan yang dirilis oleh Kedubes AS tersebut. Namun dia menjamin, pelarangan tersebut tidak berakibat secara langsung bagi industri maskapai penerbangan di Indonesia, karena saat ini belum ada penerbangan secara langsung yang dilayani maskapai penerbangan Indonesia menuju Amerika."Terakhir Garuda yang melayani penerbangan ke Amerika tahun 1996, dan pihak Amerika waktu itu mempersilahkan jika bisa masuk kategori I. Namun tahun 1997 sudah tidak lagi karena krisis ekonomi di Indonesia, dan tidak terlalu ekonomis. Lagipula, berapa sih jumlah turis Amerika yang ke Indonesia?," ujar Budhi.Budhi menjelaskan, dalam travel warning tersebut, pihak FAA mempertanyakan metodologi penilaian 20 kriteria yang menjadi dasar pemeringkatan maskapai penerbangan di Indonesia yang dinilainya kurang detail. Selain itu FAA juga menekankan bahwa desain kategori yang dipakai FAA berbeda dengan yang dipakai Dephub.Menanggapi hal itu Budi mengatakan sudah menjelaskan segala sesuatu tentang pemeringkatan maskapai kepada FAA, "Mungkin belum lengkap betul. Tapi itu tidak masalah, itu hak mereka," imbuh Budhi.Budhi pun mengakui bahwa pemeringkatan maskapai penerbangan sebagai alat untuk memposisikan dunia penerbangan di Indonesia masih belum akurat."Masing-masing negara punya penilaian sendiri. Ini kan alat untuk memposisikan diri kita. Kita akui sebagai tool (pemeringkatan) belum akurat," tandasnya. (nwk/ndr)


Berita Terkait