SBY: Hari Ini Bicara Ideologi ?
Selasa, 17 Apr 2007 23:45 WIB
Jakarta - Dalam kurun waktu 1 hari, Presiden SBY berkesempatan 2 kali memberikan kuliah umum. Kuliah pertama diberikan dalam peringatan HUT ke-5 PPATK di Istana Negara dan kuliah kedua diberikan dalam HUT ke-40 Lemhanas di Hotel Sahid, Jl Sudirman, Jakarta.Peserta kuliah umum malam ini adalah seribuan orang alumni Lemhanas, hadirin acara reuni Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL). Seseuai pesanan panitia penyelenggara, materi yang disampaikan Presiden SBY berjudul 'Menjawab Tantangan Bangsa di Era Tranformasi'."Saya diminta menyampaikan orasi yang judulnya pun telah dipilihkan oleh panitia," ujar Presiden SBY mengawali perkulihannya di Hotel Sahid, Selasa (17/4/2007).Pada kesempatan itu Kepala Negara kembali menyinggung dua kesalahan pemikiran fatal tentang reformasi. Pertama, bahwa dalam reformasi maka segala sesuatu yang dipraktekkan di masa lalu harus diubah. Kedua, dalam globalisasi maka semua yang datang dari luar negeri adalah acaman bagi bangsa.Padahal kenyataannya tidak begitu. Sampai kapan pun tetap harus ada kesinambungan dari nilai-nilai positif yang dicanangkan founding father. Reformasi adalah perbaikan terhadap praktek-praktek di masa lalu yang tidak tepat, dan bukan meninggalkan hal-hal bermanfaat.Sementara globalisasi, meski diakui mendatangkan banjir hal-hal baru yang belum tentu cocok dengan nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia tetapi bersamaan dengan itu ada peluang-peluang baru yang ditawarkan. Perubahan dunia tidak bisa ditolak, maka yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan betul peluang yang ada dari globalisasi.Dua hal di atas kemudian mengerucut pada perlunya terus meningkatkan ketahanan nasional, pemahaman terhadap ideologi bangsa dan wawasan kebangsaan. Nilai yang sempat dianggap usang dan bertentangan dengan semangat reformasi tersebut, justru merupakan pertahanan satu-satunya bagi indentitas bangsa dalam menghadapi derasnya perubahan yang dibawa globalisasi."Ada yang bilang 'hari gini bicara ideologi? Itu usang. Orba'. Saya bilang sebaliknya, itu harus (diperkuat). Meski tinggal di perkampungan global, kita butuh rumah bila ada cuaca buruk. Rumah itu adalah negara," papar Kepala Negara.
(lh/ndr)











































