16 Hari Terapung di Lautan Berbekal Makanan Pendamping ASI
Kamis, 29 Mar 2007 16:12 WIB
Jakarta - Hujan, badai, dan gelombang lautan menerpa. Namun asa tidaklah putus. Makanan pendamping ASI dikunyah untuk bertahan hidup... berbagi dengan ikan-ikan di lautan.Kisah mengharukan ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dr Carolus Juliana Leonora Louisa di hadapan 70-an hadirin di gedung Depkes, Jl Rasuna Said, Jakarta, Kamis (29/3/2007).Dia bersama 5 anak buahnya terombang-ambing di Laut Arafura selama 16 hari.Kisah berawal ketika mereka berangkat menuju Kecamatan Kormomolin pada 28 Februari 2007 dengan menggunakan speed boat untuk mempersiapkan kunjungan Bupati MTB Bitto Temar. Mereka membawa serta makanan pendamping ASI untuk dibagi-bagikan."Namun 15 menit sebelum sampai, mesin speed boat rusak. Bensinnya habis. Cool booster terbakar. Kami lupa melempar jangkar. Kapal pun hanyut sampai ke tengah lautan," kisah dr Carolus.Hari kedua terapung di lautan, dirinya bersama 5 anak buahnya masih bisa melihat daratan, dan sore harinya melihat Tanjung Naraka."Hari berikutnya sudah tidak terlihat pulau lagi. Ada hujan badai. Kami berteriak minta tolong pada Tuhan sambil menimba air keluar dari perahu," tuturnya.Hari berikutnya tetap ada badai. Terlihatlah kapal tangker. Namun rupanya penumpang kapal tangker tidak melihat mereka. Ada kapal-kapal lain juga, tapi tidak mau merapat. "Mungkin takut karena kami dikira perompak," ujarnya."Kami sempat bermain dengan ikan di sekitar kapal. Kami menganggap itu adalah akuarium. Kami bertahan hidup dengan makan makanan pendamping ASI dan minum air hujan. Makanan itu kami berikan juga pada ikan-ikan," kata dr Carolus.Setiap ada badai, keenam tenaga kesehatan ini memanjatkan doa. "Kami percaya Tuhan tidak pernah tidur, selalu mendengar doa kami. Sempat ada ombak besar dan kami berteriak pada Tuhan. Akhirnya ombak pecah sebelum mencapai kapal kami," paparnya.Doa agar diberi daratan dan keselamatan terus dipanjatkan selama belasan hari. Hingga suatu ketika, saat mereka merasa sudah tidak sanggup lagi, akhirnya ada kapal nelayan Putra Tunggal yang dinakhodai Samsudin. "Kami pun tertolong. Terima kasih Tuhan," seru dr Carolus.Seperti diberitakan, keenamnya ditemukan dalam kondisi sekarat pada 16 Maret 2007. Mereka lalu dirawat di RS Dobo Kabupaten Aru. Pada 29 Maret 2007, mereka diberi penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala atas keberanian menghadapi tantangan yang bahkan sampai mengancam keselamatan jiwa. Menkes Siti Fadilah Supari sempat meneteskan air mata karena terharu mendengarkan kisah perjuangan mereka.
(sss/nrl)











































