Satgas Transportasi Intelejen Harus Turut Selidiki Garuda
Kamis, 08 Mar 2007 15:34 WIB
Jakarta - Satgas tranportasi perlu diberi keleluasaan untuk melakukan penyelidikan atas terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, Rabu (7/3/2007). Hal ini dilakukan untuk mengetahui benar tidaknya ada sabotese."Saya kira satgas tranportasi perlu diberikan kesempatan dan keleluasaan untuk bergerak meneliti kemungkinan yang terjadi dalam kecelakaan itu, karena di dalamnya ada unit-unit intelijen yang terkait," ujar pengamat intelejen Wawan Purwanto di Pisa Cafe, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (8/3/2007).Menurut Wawan, sebenarnya satgas transportasi sudah pernah dibentuk. Hanya saja satgas terbentuk untuk menyelidiki dugaan sabotase dalam kecelakaan kereta api beberapa waktu lalu. Satgas ditemukan lempengan besi di bantalan rel.Untuk satgas ini, sambung Wawan, perlu diperkuas kewenangannya tidak hanya menyelidiki kereta api tapi juga terbakarnya KM Levina maupun pesawat udara, seperti yang terjadi pada Garuda.Wawan menguraikan, satgas terdiri dari unit intelejen berbagai instasi pemerintah yang berkoordinasi di bawah BIN. Sebab selama ini di KNKT tidak ada yang secara khusus meneliti adanya sabotase. KNKT hanya terlibat masalah teknis."Keterlibatan ini sangat penting untuk mengetahui ada atau tidaknya sabotase yang sempat dinyatakan oleh Menlu Australia Alexander Downer. Apalagi Presiden SBY sudah menunjuk langsung Menko Polhukam Widodo AS untuk menangani dugaan tersebut," urai Wawan.Wawan menilai, kecelakaan transportasi baik darat, laut, dan udara yang hampir terjadi secara berurutan dan rutin dua bulan terakhir, menjadi pertanyaan.Menurut Wawan, dari kacamata intelijen, peristiwa kecelakaan transportasi di Indonesia bisa saja menurunkan kepercayaan kepada pemerintah. Sabotase bisa menjadi pesan bersifat politik atau persaingan dan bisa mengganggu stabilitas nasional yang dapat berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi."Kalau sudah stabilitas digoyang maka pertumbuhan tidak akan ada nilai tambah. Oleh karena itu satgas transportasi harus segera diberi kesempatan untuk segera bergerak. Apalagi dari kejadian kemarin, pesawat tersebut dalam kondisi layak terbang tapi bisa terjadi kecelakaan," tandas dia.
(nik/nrl)











































