Kafe Ekasari, Tempat Karaoke yang Jadi 'Kamar Mayat' Levina
Selasa, 27 Feb 2007 11:52 WIB
Jakarta - Setiap kali korban tewas KM Levina I ditemukan, mayat langsung dibawa ke Kafe Ekasari di Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Priok untuk diidentifikasi. Lho, kok malah ke kafe?Papan nama Kafe Ekasari terpampang cukup jelas di atas pintu bangunan seluas 300 meter persegi itu. Meski bernama kafe, tapi jangan harap menemukan aneka cemilan enak di sini. Kafe itu sudah lama bangkrut. Meski demikian, papan nama kafe tak juga dilepas.Kafe Ekasari dibangun pada tahun 2000. Seperti tempat makan lainnya, kafe itu menjual aneka penganan. Untuk menarik pelanggan, disediakan juga sound system untuk berkaraoke. Sembari menyantap hidangan dan menunggu kapal berangkat, pelanggan dibebaskan bernyanyi sesuka hati.Tapi suramnya bisnis angkutan laut berimbas pada kelangsungan hidup Kafe Ekasari. Kafe alias kantin itu tidak laku seiring dengan anjloknya jumlah penumpang kapal. Tahun 2002, pengelola akhirnya menutup kafe itu.Kafe itu lantas disulap menjadi Posko Layanan Kesehatan. Kursi dan tempat makan diganti dengan tempat tidur untuk pasien dan lemari obat-obatan. Ruangan ini cukup sejuk, maklum, dilengkapi AC.Ketika musibah Levina terjadi, semua mayat dibawa ke Kafe Ekasari ini untuk diidentifikasi. "Ini baru pertama kalinya ruangan ini digunakan untuk menaruh jenazah," kata Asisten Manajer Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Priok Cholid Fathoni kepada detikcom di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (27/2/2007).Menurut Cholid, begitu mayat dipindahkan ke rumah sakit (RSCM atau RS Polri), Kafe Ekasari langsung disemprot desinfektan. "Untuk menghilangkan bau dan bakteri," kata Cholid.
(nrl/sss)











































